Thursday, January 27, 2011

Saatnya Sekolah di Kota Palu Menerapkan Strategi Pemasaran

Telah menjadi realitas, bahwa persaingan antar sekolah di Kota Palu dewasa ini semakin atraktif. Hal ini tentunya menjadi sinyal positif dalam hal peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan. Kebijakan pemerintah kota yang memberikan perhatian besar di sektor pendidikan, membuka peluang lebih berinovasinya institusi pendidikan. Sekolah-sekolah kini telah mengubah mindset-nya dengan mulai merevisi beberapa programnya.
Secara tidak sadar, selama ini sekolah sudah melakukan pemasaran. Menyebar brosur saat penerimaan siswa baru (akhir tahun ajaran), mengikuti perlombaan, mengirim press release ke media pemberitaan atau mengundang wartawan untuk meliput kegiatan di sekolah, dan lain sebagainya, adalah bentuk-bentuk strategi pemasaran. Hanya saja kegiatan tersebut menurut Dr. H. Saggaf Pettalongi (dosen pascasarjana STIE Panca Bhakti Palu) berlangsung secara alamiah, bukan merupakan hasil rumusan khusus dari kajian-kajian strategi pemasaran.

Perubahan besar telah dialami oleh lingkungan pendidikan dalam hal ini sekolah, yaitu lingkungan global pendidikan atau sering diistilahkan dengan globalisasi pendidikan. Globalisasi berarti suatu proses keterbukaan yang seluas-luasnya, bebas dari keterbelengguan kultural, bebas dari ketertutupan. Globalisasi dengan ciri pasar bebasnya tidak hanya menjual barang produksi industri saja, melainkan juga sumberdaya manusia yang siap kerja. Oleh karena itu kualitas menjadi acuan utama. Barang (produk pendidikan) yang tidak berkualitas akan dicampakkan oleh konsumen, persaingan pasar semacam ini menuntut barang dagangan yang berkualitas. Masyarakat sudah mulai mempertanyakan dan memilih sekolah-sekolah berkualitas, karena mereka takut putra-putrinya tidak mampu bahkan kalah bersaing di era globalisasi ini.
Pemasaran, yang lebih dikenal dengan istilah asing “marketing” adalah suatu metode baru untuk memajukan dan mengembangkan potensi sebuah organisasi dengan memusatkan sasaran atau target, terutama pada masyarakat yang benar-benar membutuhkan dan menginginkan organisasi kita, dan tujuan dari pemasaran adalah membantu pengelola suatu organisasi untuk memutuskan produk apa yang mesti ditawarkan terlebih dahulu.
Pada awalnya pemasaran dikenal dan dikembangkan oleh perusahaan multi nasional besar dengan kekuatan ekonomi super. Namun dewasa ini, setiap perusahaan dan bahkan setiap orang telah menggunakannya, tidak ketinggalan pula organisasi-organisasi non-profit seperti lembaga pendidikan yang berfungsi sebagai pencetak biro jasa masa depan telah memanfaatkan segi keunggulan pemasaran untuk meningkatkan kerjasama atau transaksi mereka dengan pembeli, langganan dan publik. Suatu organisasi yang memutuskan tetap eksis dan survive digelanggang persaingan yang ketat ini, mau tidak mau, suka atau tidak suka; tidak akan sukses tanpa memiliki strategi pemasaran yang baik. (David W. Cravens, Strategic Marketing, 1982)

Bagaimana menerapkan strategi pemasaran di dunia pendidikan?
Menutut Marwan (1991 : 30), strategi pemasaran adalah wujud rencana yang terarah dibidang pemasaran untuk memperoleh hasil yang optimal.
Selanjutnya Davud Cravens (2000 : 25), menjelaskan bahwa proses strategi pemasaran meliputi :
a. Analisis Situasi (Situation Analisis)
Analisis situasi ini meliputi visi, struktur, dan analisis pasar, segmentasi pasar, serta pengetahuan pasar untuk memadu perancangan suatu strategi baru atau perubahan strategi yang sudah ada.
b. Perancangan Strategi Pemasaran (Designing Marketing Strategy)
Tahap analisis situasi dalam proses strategi pemasaran mengidentifikasi peluang pasar, menggambarkan segmen pasar, mengevaluasi persaingan, dan menilai kelemahan dan kekuatan perusahaan. Perancangan strategi pemasaran meliputi market targeting dan analisis positioning, membangun hubungan pemasaran, serta pengembangan dan perkenalan produk baru.

c. Pengembangan Program Pemasaran (Marketing Program Development)
Tahap pengembangan program pemasaran ini meliputi portofolio produk dan manajemen strategi merek, rantai nilai, strategi promosi dan harga.
d. Penerapan dan Manajemen Strategi Pemasaran (Implementing and Managing Marketing Strategy)
Tahap penerapan dan manajemen strategi pemasaran meliputi perancangan marketing driven organization yang efektif, serta strategi implementasi dan control.
Basu Swastha dan Irawan (2003 : 69), menjelaskan strategi pemasaran dari setiap perusahaan sebagai suatu rencana keseluruhan untuk mencapai tujuan. Penentuan strategi tersebut dapat dilakukan oleh manajer pemasaran dengan membuat tiga macam keputusan yaitu :
1. Konsumen yang dituju (Target Consumen), yaitu individu-individu/ kelompok tertentu yang harus dilayani oleh perusahaan dengan memuaskan.
2. Menentukan keinginan konsumen, yaitu mengumpulkan informasi dari beberapa sumber untuk menentukan keinginan konsumen.
3. Marketing Mix, merupakan variable-variabel (produk, harga, promosi, dan distribusi) yang dipakai perusahaan sebagai sarana untuk memenuhi atau melayani kebutuhan dan keinginan konsumen.
Strategi pemasaran yang berhasil umumnya ditentukan dari satu atau beberapa variabel marketing mix-nya. Jadi perusahaan dapat mengembangkan strategi produk, harga, distribusi atau promosi, atau mengkombinasikan variabel-variabel tersebut ke dalam suatu rencana strategi yang menyeluruh.

Berdasarkan defenisi-defenisi yang telah diuraikan, dapat diketahui bahwa strategi pemasaran dari setiap perusahaan merupakan suatu keseluruhan kegiatan ntuk mencapai satu tujuan. Strategi pemasaran yang efektif, memerlukan suatu pengetahuan tentang keinginan konsumen yang ditunjukan pada manfaat barang (produk) dan adanya konstribusi dari masing-masing produk.
Strategi pemasaran sangat tergantung oleh dimana suatu perusahaan menempatkan posisi peranannya.
Philip Kotler dan A.B.Susanto (2001) mengklasifikasikan perusahaan menurut perananya dalam pasar sasaran yaitu sebagai berikut :
a. Pemimpin pasar adalah perusahaan yang memiliki pangsa pasar terbesar dan biasanya memimpin
dalam perubahan harga, peluncuran produk baru, cakupan distribusi dan intensitas promosi.
b. Penantang pasar adalah perusahaan yang dengan agresif mencoba memperbesar pangsa pasar
dengan menyerang pemimpin pasar perusahaan peringkat dua lainnya, serta perusahaan lebih kecil dalam industrinya.
c. Pengikut pasar adalah perusahaan peringkat dua yang tidak mau menimbulkan gejolak karena takut kehilangan lebih banyak pengikut, bukannya tidak punya strategi dan mencoba menggunakan kompentensinya untuk tidak aktif.
d. Pencerok adalah perusahaan kecil yang memilih bergerak dalam bagian khusus pasar yang tidak menarik perusahaan besar.

Di dunia pendidikan, strategi pemasaran tersebut dapat diterapkan. Kenapa bisa diterapkan? Karena sesungguhnya konsep pemasaran pendidikan dewasa ini memang telah berevolusi menjadi sebuah kajian yang lebih dewasa. Beberapa sekolah di kota besar seperti Jakarta, misalnya, telah mempekerjakan karyawan khusus di bidang marketing.
Marketing dewasa ini bukan hanya monopoli institusi yang profit-oriented, namun pula trennya telah diadopsi institusi pendidikan. Upaya untuk menggaet input yang lebih capable dan matang (calon siswa potensial), telah menjadi tuntutan yang wajib dipenuhi, dalam rangka mendukung proses pembelajaran dan kompetisi antar sekolah. Dengan input yang qualified tersebut, maka guru akan lebih mampu untuk melakukan akselerasi, bukan malah menggampangkan proses belajar mengajar.
Inovasi pemasaran lembaga pendidikan (sekolah) harus disiapkan dan dirumuskan sejauh mungkin, bukan saja hanya mendekati tahun ajaran baru. Panitia penerimaan siswa baru misalnya, sudah harus dibentuk pada awal tahun ajaran dan tugasnya tidak hanya difungsikan sekadar mengurusi hal administrasi dan seleksi ketat semata, namun mereka diefektifkan jauh-jauh hari sebelum tahun ajaran baru untuk mengedukasi dan melakukan kampanye terhadap target-targetnya (calon siswa potensial). Dalam hal ini, tentunya mereka awali dengan melakukan riset mengenai trend masyarakat konsumen pendidikan. Dan pada tahap selanjutnya adalah berinovasi untuk mengedukasi pasar dan menghasilkan input yang sesuai standar target yang telah ditetapkan sebelumnya.
Sekolah-sekolah memang harus lebih aktif untuk menggaet input-input yang berkualitas. Hal ini dalam rangka kompetisi tadi. Tak heran jika pilihan berinovasi dengan memajukan waktu perekrutan calon siswa dan membuka jalur khusus siswa berprestasi, menjadi strategi baru bagi sekolah-sekolah dalam konteks pemasaran lembaganya.
Untuk strategi komunikasi pemasaran sekolah-sekolah negeri maupun swasta, bisa memasang artikel satu halaman full di harian lokal. Suatu terobosan unik untuk mengedukasi calon konsumennya. Tentunya strategi ini memerlukan budget yang tidak sedikit. Namun untuk sebuah kemenangan kompetisi, akselerasi peningkatan kualitas dan profesionalisme manajemen sekolah, tidak ada salahnya untuk dicoba?
Perilaku konsumen pendidikan (siswa) di Kota Palu memang masih cenderung loyal atau masih primordial dalam konteks pendidikan menengah. Ini adalah kekuatan tersendiri untuk pemasaran brand lembaga pendidikan lokal. Ditunjang dengan interland yang belum terlalu valuable kualitas pendidikannya, pasar pendidikan di Kota Palu cenderung masih sangat prospektif.
Anak usia sekolah menengah masih senang bersekolah di Kota Palu ketimbang harus hijrah ke Makassar atau ke daerah di Pulau Jawa misalnya. Hal ini sangat memberi akses, untuk goal Kota Palu. Tujuan Pendidikan, sebagaimana sering dikampanyekan oleh Pemkot Palu. Berbeda dengan peserta pendidikan tinggi (mahasiswa) yang cenderung menjadikan Pulau Jawa sebagai target utama.
Siswa (termasuk orangtuanya) tidak lagi hanya sekadar melihat pertimbangan lamanya sekolah berdiri, jarak dari rumah ke sekolah dan guru-gurunya saja, melainkan ada faktor-faktor motivasi lain dalam hal memutuskan target sekolah yang dipilih. Dalam konteks ini, positioning sebuah institusi pendidikan merupakan aspek perhatian besar dari konsumennya (siswa).
Sekolah-sekolah yang memposisikan dirinya sebagai sekolah unggulan, andalan ataupun favorit yang diregulasi pemerintah kota Palu tentu memiliki bargaining position yang lebih baik. Namun trend siswa dewasa ini ternyata tidak hanya melihat positioning sekolah unggulan, andalan dan favorit sebagai satu-satunya pertimbangan untuk memutuskan bersekolah di lembaga tersebut.
Pertimbangan positioning sekolah gaul dan bonafide ternyata menjadi fenomena baru dalam pemasaran lembaga pendidikan. Hal ini penting mendapat respon manajemen sekolah. Berkualitas, disiplin namun tetap gaul cenderung pula menjadi idealisme remaja. Sekolah bonafide, dengan infrastruktur yang lebih mendukung, ruangan ber-AC, fasilitas teknologi yang memadai, kini memang suatu tuntutan pasar yang menjadi kewajiban untuk dieksekusi oleh sekolah, dalam rangka memasarkan lembaganya.
Hal ini karena ternyata perilaku konsumen pendidikan (siswa) yang merupakan usia remaja, relatif ingin suasana dinamis dalam lingkungan sekolahnya. Remaja ingin tahu banyak tentang teknologi pendidikan mutakhir, sehingga sekolah lagi-lagi dituntut menawarkan inovasi dalam content of product yang ditawarkannya.
Content tersebut termasuk pula seberapa besar apresiasi manajemen sekolah terhadap aktifitas kesiswaan yang kreatif dan dinamis. Namun demikian, tulisan ini bukan berarti ingin memasuki area kapitalisasi pendidikan di Kota Palu, namun lebih beroientasi pada analisis trend pemasaran pendidikan mutakhir. Jadi, intinya adalah bagaimana menciptakan qualistyle di sekolah, bukan sekadar lifestyle.
Kepuasan konsumen pendidikan terhadap kinerja sekolah menjadi keniscayaan untuk menjadi telaah evaluasi. Over promise and under delivery adalah kesalahan pemasaran. Ketidak sesuaian ekspektasi konsumen dan realitas yang ada, akan membentuk citra buruk sekolah. Hal ini patut diwaspadai karena masyarakat kita juga memiliki kemampuan socializing yang kuat.
Komunikasi negatif melalui word of mouth dalam event dan forum sosial akan sangat efektif memberikan pencitraan buruk kepada sekolah, jika memang terjadi ketidakpuasan tadi. Oleh karena itu, harus ada quality assurance dari sekolah untuk siswa dan calon siswa (terutama siswa potensial) terhadap produk yang ditawarkan oleh suatu sekolah .
Demikian tulisan ini semoga bermanfaat.

Sumber: Radar Sulteng


Artikel Terkait:

No comments:

Top Comments