Wednesday, January 26, 2011

Cerita Panas: Siswi SMA Berjilbab dengan Guru Bahasa Inggris

Awal kisah cerita panas gadis SMA berjilbab
 Skali-kali nulis cerita panas deh. Kalo cuma skali ini ndak mungkin webblog ini langsung diblokir sama om Tifatul. hehehehe.......

Perkenalkan namaku Bento...rumah real estate...mobilku banyak....harta....eeeeh...maaf ngelantur.
Panggil saja namaku Rina, bukan nama sebenarnya tentu. Aku seorang siswi yang tahun ini sudah duduk di kelas akhir SMA ternama di Palu. Aku sengaja pindah sekolah lantaran harus ikut abi (ayah -pen) kerja di Kota Kaledo ini. Yap, kami adalah pindahan, asli orang Gorontalo. (mungkin ada hubungan keluarga dengan Bona Paputungan, si “Andai Aku Gayus Tambunan”)

Kepindahanku ini awalnya membuat sedih harus pisah dengan teman-teman akrab. Tapi mau gak mau aku, ummi dan adik-adikku harus ikut abi pindah. Karena abi gak mau bolak-balik pulang pergi Palu-Gorontalo. Tapi juga gak mau pisah sama keluarga, selalu kangen katanya,.....heheee.


Aku berasal dari keluarga Islami yang santun
Kegundahan lain adalah tentang pergaulanku kelak dengan temen-temen kota yang baru nanti. Di Gorontalo aku dididik agama dengan lumayan kental. Baik di sekolah, di rumah oleh ummi, sore juga ngaji di surau yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Ya, keluarga kami boleh dibilang keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Tentu dambaan semua orang.

Setiap keluar rumah kami selalu mengenakan jilbab untuk menutupi aurat. Bahkan adik ku yang masih duduk di kelas 5 SD pun sudah diajari untuk istiqamah memakai jilbab. Lantas, bagaimana bila aku pindah ke kota? pergaulan bebas yang aku lihat di televisi-televisi itu membuatku ngeri.
Tapi syukur alhamdulillah, abi menyekolahkan aku di sekolah SMA Islam. Sehingga kawan-kawan dan pergaulan ku pun tidak jauh berbeda dengan di Gorontalo. Sehingga hanya butuh sedikit penyesuaian diri. Dan Alhamdulillah temen-temen di sekolah ku yang baru ini baik-baik. Begitupun juga dengan guru-guru nya.
 

Cerita Panas Siswi SMA Dengan Guru Bahasa Inggris
Suatu hari saat libur sekolah usai ujian, aku ingin sekali mudik ke Gorontalo. “abii.. besok ana liburan, sekali-kali nengok ke Gorontalo ya abii..” pinta ku. Namun jawaban tak sesuai dengan harapanku. Abi banyak kerjaan yang harus segera di selesaikan. Ya sudah, semoga lain kali bisa.
 

Yang libur hanya aku saja, adik-adik tetep masuk sekolah seperti biasa. Sedang ummi ada acara pengajian rutin ke majlis ilmu di masjid komplek kami tinggal. Aku bingung mau kemana hari libur gini. Kerumah teman-temen tentu tidak mungkin, lantraran rumah kami saling berjauhan.
Ketika sedang bingung aku keluar ke ruang depan, tak jauh dirumah sebelah sepertinya ada sosok yang kau kenal. Ya, dia adalah Pak Kim guru Bahasa Inggris di sekolahku. “Assalamualaikuum, Pak Kim kan?” salamku mengagetkan beliau. “Waalaikumsalam, ya benar !! Oo.. kamu Rina, siswi baru itu yaa?” jawab Pak Kim.
 

“Benar pak, ana Rina yang dari Gorontalo. Ana tidak menyangka kalo rumah bapak bersebelahan pak” lanjutku gembira. Pak Kim pun menyilahkan mampir kerumah dan akupun mengiyakan lantaran bosen dirumah. Bu Yenti, istri Pak Kim tidak kalah ramah dengan Pak Kim. Setelah perkenalan kami pun ngobrol dan bercerita. Tentang kepindahanku, dsb.. seru deh pokoknya.
 

Nampaknya disudut sana bu Yenti sedang memasak. Aku mencoba minta ijin untuk membantu “Emangnya kamu bisa masak nak?” tanya bu Yenti. Tanpa dikomando pun aku menjawab “Bisa bu dikit-dikit. Ana biasa bangun jam 3, sholat tahajud, jamah sholat subuh dengan ummi dan abi, terus bantuin ummi masak”. “Wah ibu iri dengan keluarga kamu Rin, sungguh keluarga yang sakinah, semoga keluarga ibu kelak bisa seperti keluargamu Rin” lanjut bu Yenti yang selama 5 tahun belum dikarunia anak ini. “Amiiinnn..” sahutku.
 

Kami masak dengan asyiknya sambil ngobrol kesana-kemari. Hingga tidak sengaja sikutnya menyentuh panci panas berisi masakan sayur di kompor sebelah. Krompyaang,…… bunyi panci jatuh dari kompor. Aku spontan kaget bukan main “aduuhh… kakikuuu” ya kakiku tersiram sayuran. “kamu gak papa Rin?” bu Yenti pun sontak kaget.
 

Pak Kim yang tadi diruang tamu pun berlari “ada apa Bu? ada apa Rin?”. “Ini tadi panci sayuran jatuh dan menyiram kaki Rina pak” jelas bu Yenti. Aku pun segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.. Ummi dan abi juga nyusul kerumah sakit dalam hitungan jam. Syukur alhamdulillah kakiku tidak sampai di amputasi, hanya sedikit melepuh kena panasnya air dan sayuran.
 

Huh... sungguh, cerita panas (cerita hot) dan boleh dibilang cerita dewasa, soale kalo anak kecil kesiram air panasa pasti jerit2 tidak karu2an. Cerita panas karena kejatuhan sayuran di rumah pak Guru ini tidak akan aku lupa sampai kapanpun. Ini menjadi pelajaran bagiku, bagi kami, dan juga bagi para pembaca blog ini. Agar selalu berhati-hati dalam setiap tindakan. Lengah sedikit bisa fatal, untung cuma di perban. Kalao diamputasi? pincang dah hidupku hhahahay.....…
 

Desclaimer : Cerita diatas hanyalah fiktif belaka murni karangan penulis blog. Jika ada kesamaan nama, peran, lokasi itu benar-benar diluar kesengajaan saya.


Artikel Terkait:

No comments:

Top Comments