Thursday, November 18, 2010

Ibadah Haji: Cara Bijak Mengejar Target

Setelah menunaikan ibadah haji, setiap orang berharap akan beribadah dengan baik di lingkingannya. Khatam Al-Qur'an satu kali, dua kali, bahkan ada yang lebih dari itu adalah salah satu target dalam menunaikan ibadah haji. Mereka yang belum lancar membaca Al-Qur'an, ada yang menargetkan tawaf sebanyak 10 kali, atau 30 kali, atau bahkan lebih. Ada juga yang menargetkan akan melakukan shalat tahajjud dan dhuha di samping Ka'bah selama sekian kali, membaca wirid tertentu sebanyak sekian kali dan lain-lain.

Semua itu dilakukan karena di dorong oleh (1) janji berlipat-gandanya pahala ibadah di Masjid Nabawi maupun di Masjidil Haram; (2) keinginan untuk meraih hajat tertentu; dan (3) waktu/kesempatan di tanah suci sangat terbatas, sementara impian sudah lama terpendam, sehingga seringkali terdengar alasan, 'mumpung di tanah suci'.


Olehnya itu, para jama'ah biasanya telah membuat rencana kegiatan yang berkenaan dengan target tersebut. Sayangnya, semangat ibadah yang sangat kuat seringkali menepikan hal-hal penting yang berkaitan dengan kesehatan. Misalnya, agar dapat shalat di dekat Ka'bah, maka jama'ah berangkat ke masjid pukul 03.00 tengah malam. Setelah shalat shubuh pukul 06.00 dilanjutkan dengan shalat dhuha dan ibadah-ibadah yang lain sampai dzhuhur. Ia pulang ke asrama pukul 15.00. Selama dua belas jam di masjid, ia membiarkan perut kosong. Apabila pola ibadah yang demikian itu sering dilakukan, tidak mustahil banyak di antara jama'ah haji yang jatuh sakit. Betapapun, beribadah dengan cara memaksa diri sampai mengabaikan kesehatan kurang dikehendaki oleh syari'at. Syeikh Az-Zarnuji (dalam Saerozi, 2004:130) menyatakan,

"Badanuka matituka farfiq"
(Badanmu adalah kenderaanmu, maka berbuatlah bijak terhadapnya).


Pola ibadah yang tidak mengindahkan kesehatan tersebut sebenarnya bisa dihindari dengan cara yang amat sederhana. Misalnya, jama'ah membawa bekal makanan sekedarnya di dalam masjid. Atau, jama'ah dapat membeli makanan di belakang marwa (tempat sa'i), yang sering disebut sebagai pasar seng (tapi saat ini pasar tersebut sudah dibongkar). Di situ tersedia warung masakan Indonesia. Disamping itu, jama'ah juga dapat melakukan rekreasi kecil yang tidak menyimpang dari tujuan ibadah. Rekreasi ini dapat dilakukan dengan berkelompok, di sela-sela kepenatan di masjid. Misalnya dengan melihat-lihat kain, kerudung, baju, souvenir, dan mainan anak-anak.

Bagi pecinta seni batu mulia, di pasar tersebut dapat pula memilih batu mulia terbaik. Para penjual batu mulia biasayany memakai pakaian ala Barat, bercelana dan berdasi, dan rata-rata mahir berbahasa Inggris.

Jika lorong tengah pasar seng disusuri, akan ditemukan Masjid Abu Ghurairah atau sering di sebut Masjid Kucing. Jika lorong jalan ini disusuri terus, akan ditemukan Masjid Jin. Beberapa meter dari Masjid Jin, terdapat makam Siti Khadijah yang terletak di kompleks pemakaman Ma'la. Jama'ah dapat melakukan ziarah di makam tersebut. Hanya saja jama'ah wanita tidak diperkenankan memasuki area makam. Mereka hanya dapat berziarah dari luar pagar bumi yang jaraknya agak jauh dari makam khusus Siti Khadijah dan putra-putra Rasulullah.


Artikel Terkait:

2 comments:

baju muslim murah said...

moga bisa cepetan naik haji :)

tuker link berputar http://bajumuslimmurah.tk/ dan http://blog-dofollow.blogspot.com/ moga manfaat.

Ikhsan Madjido said...

@baju muslim murah

terima kasih kunjungannya. Insya Allah, amin. semoga cepat mendapat panggilan.

Top Comments