Monday, February 28, 2011

Kerangka Umum Rancangan dan Prosedur dalam Penelitian Pendidikan

I. PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari kita bekerja berdasarkan rencana yang telah dibuat sebelumnya. Sebab, pekerjaan yang tanpa rencana akan sulit untuk ditentukan sampai dimana keberhasilan rencana tersebut. Begitu pula dalam aktivitas kegiatan ilmiah, yaitu kegiatan penelitian yang menuntut pekerjaan harus lebiih teliti dan cermat, sistematis, dan objektif, diperlukan sebuah rancangan dan struktur yang mapan.
Struktur menunjuk pada suatu kerangka, pengaturan, atau konfigurasi unsur-unsur struktur itu yang berkaitan dengan cara-cara tertentu. Struktur merupakan paradigma, model, relasi-relasi antara variabel-variabel dalam suatu penelitian. Suatu rancangan atau desain penelitian mengungkapkan baik struktur masalah penelitian maupun rencana penelitian yang akan digunakan untuk memperoleh petunjuk empiris mengenai relasi (hubungan) dalam masalah tersebut.
Begitu pula dalam melakukan penelitian dalam bidang pendidikan diperlukan rancangan penelitian yang digunakan sebagai dasar atau patokan dalam melakukan penelitian agar pelaksanaannya dapat berjalan secara benar, baik, dan lancar. Rancangan penelitian ini juga bisa digunakan sebagai prosedur atau langkah-langkah dalam penelitian pendidikan.
Olehnya itu makalah ini akan membahas kerangka umum rancangan dan prosedur dalam penelitian pendidikan.

II. PERMASALAHAN
1. Apakah pengertian rancangan penelitian?
2. Apakah kegunaan rancangan penelitian?
3. Bagaimana kriteria rancangan penelitian?
4. Bagaimana prosedur dalam penelitian pendidikan?

III. PEMBAHASAN
1. Rancangan Penelitian

Desain artinya rancangan, tetapi apabila dikaji lebih lanjut kata itu dapat berarti pula pola, potongan, bentuk, model, tujuan dan maksud (Echols dan Hassan Shadily, 1976:177).
Desain Penelitian menurut William M.K. Trochim (2006) “Research design can be thought of as the structure of research -- it is the "glue" that holds all of the elements in a research project together.” Sedangkan Lincoln dan Guba (1985:226) mendefinisikan rancangan penelitian sebagai usaha merencanakan kemungkinan-kemungkinan tertentu secara luas tanpa menunjukkan secara pasti apa yang akan dikerjakan dalam hubungan dengan unsur masing-masing.
Desain penelitian menurut Mc Millan dalam Ibnu Hadjar (1999:102) adalah rencana dan struktur penyelidikan yang digunakan untuk memperoleh bukti-bukti empiris dalam menjawab pertanyaan penelitian.
Sedangkan menurut Punaji Setyosari (2010:148) rancangan atau desain penelitian adalah rencana dan struktur penelitian yang disusun sedemikian rupa sehingga kita dapat memperoleh jawaban atas permasalahan-permasalahan penelitian.
Rencana itu merupakan suatu bagan atau skematis secara menyeluruh yang mencakup program penelitian yang ingin kita kerjakan. Dikatakan sebagai suatu bagan atau skema karena rencana tersebut membuat peta kegiatan yang akan kita lakukan. Peta kegiatan itu berisi langkah-langkah yang kita ikuti dalam melakukan kegiatan penelitian. Misalnya, kita ingin melakukan kegiatan penelitian yang hendak mendeskripsikan suatu keadaan kelas, maka langkah-langkah yang dilakukan adalah antara lain: menentukan hal-hal apa saja yang akan kita deskripsikan, bagaimana cara mendeskripsikan, dan mengapa dideskripsikan.
Rancangan penelitian kadangkala dipresentasikan melalui suatu bagan konseptual yang menggambarkan hubungan antara variabel-variabel penelitian. Sebagai contoh, gambar dibawah ini menunjukkan hubungan konseptual antara variabel-variabel penelitian.

2. Kegunaan Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian dibuat untuk menjadikan peneliti mampu menjawab pertanyaan (masalah) penelitian dengan valid, objektif, tepat, efisien. Desain penelitian disusun dan dilakukan dengan penuh perhitungan agar dapat menghasilkan petunjuk empiris yang kuat relevansinya dengan masalah penelitian yang ada (Punaji Setyosari, 2010:149).
Rancangan penelitian menetapkan kerangka acuan bagi pengkajian hubungan variabel-variabel yang ditetapkan dalam penelitian itu. Dengan kata lain, desain ini menjelaskan langkah-langkah atau prosedur apa yang harus dilakukan oleh peneliti, bagaimana pelaksanaan penelitian, dan teknik analisis mana terhadap data empiris yang dikumpulkan. Dalam rancangan tersebut peneliti menggambarkan variabel-variabel dan bagaimana mengontrol variabel-variabel tersebut. Atas dasar uraian dan deskripsi tentang prosedur pelaksanaan, maka peneliti menetapkan model rancangan mana yang dianggap paling tepat untuk menggali data dan bagaimana caranya, sehingga diperoleh data yang dipersyaratkan untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan.
Kegunaan rancangan penelitian bagi peneliti bahwa rancangan dimaksudkan untuk memenuhi dua hal mendasar, yaitu:
1). Memberikan jawaban terhadap suatu atau beberapa masalah atau pertanyaan-pertanyaan penelitian.
Jawaban atas pertanyaan tersebut diungkapkan melalui prosedur-prosedur kerja dan pembuktian atas hal-hal yang ingin dicari.
2). Mengontrol atau mengendalikan varian.
Mengendalikan variabel berkaitan dengan variabel-variabel mana yang diobservasi pengaruhnya terhadap variabel lain, sebagai hasil atau dampak adanya variabel lain. Atau, variabel-variabel mana yang utama kita perhatikan sehingga hasil penelitian tetap berpedoman pada arahan atau tujuan penelitian semula.

3. Kriteria Rancangan Penelitian
Menyusun rancangan penelitian bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan peneliti, terutama peneliti mula. Kesulitan-kesulitan menentukan sumber acuan atau kerangka pengkajian variabel ini akan menimbulkan penelitian yang dilakukan menjadi bias (subjective).
Ada beberapa kriteria yang dapat dipakai atau dijadikan sebagai kriteria untuk menilai desain penelitian. Kriteria-kriteria ini mencakup:
1). Menjawab pertanyaan penelitian.
2). Kontrol atau kendali terhadap variabel bebas ekstra.
3). Validitas internal.
4). Validitas eksternal.
Kriteria pertama, ini berhubungan dengan, “Apakah desain atau rancangan yang disusun oleh peneliti itu menjawab pertanyaan penelitian?” Atau, “Apakah desain atau rancangan itu merupakan pengujian yang memadai terhadap hipotesis penelitian?”. Kelemahan dasar yang dibuat oleh peneliti mula pada umumnya bahwa desain itu tidak menjawab pertanyaan peneliti. Kadang kala peneliti secara ceroboh menggunakan suatu rancangan penelitian eksperimen tanpa mempertimbangkan segi-segi yang mempersyaratkannya. Peneliti langsung memilih rancangan eksperimen dan menetapkan kedua subjek sebagai “kelompok eksperimen” dan “kelompok kontrol”. Seharusnya peneliti menentukan terlebih dahulu kerangka, acuan untuk menjawab pertanyaan dalam penelitiannya.
Kriteria kedua, adalah kontrol atau kendali terhadap variabel bebas ekstra. Variabel bebas ekstra adalah variabel bebas yang mungkin mempengaruhi variabel bebas, tetapi bukan merupakan bagian dari kajian yang dilakukan oleh peneliti.
Kriteria ketiga, adalah validitas internal. Validitas internal ini mengajukan pertanyaan-pertanyaan, “Apakah X, yaitu manipulasi eksperimen, sungguh-sungguh menghasilkan perbedaan yang signifikan? Segala sesuatu yang mempengaruhi kontrol atau kendali desain menjadi persoalan validitas internal. Apabila suatu desain atau rancangan itu sedemikian rupa keadaannya sehingga peneliti meragukan atau sama sekali tidak yakin akan relasi (akan adanya signifikasi perbedaan dalam kelompok eksperimen), maka ini merupakan masalah validitas internal.
Kriteria berikutnya, keempat, adalah validitas eksternal (eksternal validity), yaitu validitas yang berhubungan dengan keterwakilan atau kepresentatifan atau kemungkinan generalisasi. Apabila suatu eksperimen telah dikerjakan dan relasi (hubungan antara variabel) sudah ditemukan, untuk populasi-populasi apa sajakah relasi (hubungan) itu dapat dirampatkan atau digeneralisasikan? Apakah generalisasi itu berlaku bagi seluruh populasi atau hanya terbatas pada sampel yang menjadi objek penelitian. Hal penting dipahami oleh peneliti karena tidak semua hasil eksperimen itu berlaku bagi populasi yang lebih luas. Penelitian tentang penggunaan metode mengajar yang dilakukan di SD Kelas I tidak bisa digeneralisasi ke kelas lain yang lebih tinggi. Ini merupakan hal mendasar yang perlu diperhatikan oleh peneliti.
Perlu diingat bahwa di samping mempertimbangkan kriteria di atas, secara teknis pemilihan terhadap suatu rancangan atau pendekatan dalam penelitian perlu pula mempertimbangkan faktor sebagai berikut:
1) Tujuan penelitian
2) Tersedianya subjek penelitian
3) Waktu dan dana yang tersedia
4) Minat peneliti sendiri

4. Prosedur Penelitian Pendidikan
Metode penelitian berhubungan erat dengan prosedur, teknik, alat, serta desain penelitian yang digunakan. Desain penelitian harus cocok dengan pendekatan penelitian yang dipilih. Prosedur, teknik, serta alat yang digunakan dalam penelitian harus cocok pula dengan metode penelitian yang ditetapkan. Sebelum penelitian dilaksanakan, peneliti perlu menjawab sekurang-kurangnya tiga pertanyaan pokok (Nazir, 1985) yaitu:
1. Urutan kerja atau prosedur apa yang harus dilakukan dalam melaksanakan suatu penelitian?
2. Alat-alat (instrumen) apa yang akan digunakan dalam mengukur ataupun dalam mengumpulkan data serta teknik apa yang akan digunakan dalam menganalisis data?
3. Bagaimana melaksanakan penelitian tersebut?
Jawaban atas ketiga pertanyaan tersebut memberikan kepada peneliti urutan-urutan pekerjaan yang terus dilakukan dalam suatu penelitian. Hal ini sangat membantu peneliti untuk mengendalikan kegiatan atau tahap-tahap kegiatan serta mempermudah mengetahui kemajuan (proses) penelitian.
Metode penelitian menggambarkan rancangan penelitian yang meliputi prosedur atau langkah-langkah yang harus ditempuh, waktu penelitian, sumber data, serta dengan cara apa data tersebut diperoleh dan diolah/dianalisis. Dalam praktiknya terdapat sejumlah metode yang biasa digunakan untuk kepentingan penelitian. Beikut ini akan dikemukakan secara singkat beberapa metode penelitian sederhana yang sering digunakan dalam penelitian pendidikan.
1. Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsi¬kan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi saat sekarang. Penelitian deskriptif memusatkan perhatian kepada masalah-masalah aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian berlangsung. Melalui penelitian deskriptif, peneliti berusaha mendeskripsikan peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatian tanpa memberikan perlakukan khusus terhadap peristiwa tersebut. Variabel yang diteliti bisa tunggal (satu variabel) bisa juga le¬bih dan satu variabel.
Penelitian deskriptif sesuai karakteristiknya memiliki prosedur/langkah-langkah tertentu dalam pelaksanaannya. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Perumusan masalah. Metode penelitian manapun harus diawali dengan adanya masa¬lah, yakni pengajuan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang ja¬wabannya harus dicari menggunakan data dari lapangan. Pertanyaan masalah mengandung variabel-variabel yang menjadi kajian dalam studi ini. Dalam penelitian deskriptif peneliti dapat menentukan status variabel atau mempelajari hubungan antara variabel.
2. Menentukan jenis informasi yang diperlukan. Dalam hal ini peneliti perlu menetapkan informasi apa yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan atau masalah yang telah dirumuskan. Apakah informasi kuantitatif ataukah kualitatif.
3. Menentukan prosedur pengumpulan data. Ada dua unsur penelitian yang diperlukan, yakni instrumen atau alat pengumpul data dan sumber data atau sampel yakni dari mana informasi itu sebaiknya diperoleh. Dalam penelitian ada sejumlah alat pengum¬pul data antara lain tes, wawancara, observasi, kuesioner, sosio¬metri. Alat-alat tersebut lazim digunakan dalam penelitian deskriptif. Misalnya untuk memperoleh informasi menge¬nai langkah-langkah guru mengajar, alat atau instru¬men yang tepat digunakan adalah observasi atau pengamatan. Cara lain yang mungkin di-pakai adalah wawancara dengan guru mengenai langkah-langkah mengajar. Agar diperoleh sampel yang jelas, permasalahan peneli¬tian harus dirumuskan se-khusus mungkin sehingga memberikan arah yang pasti terhadap instrumen dan sumber data.
4. Menentukan prosedur pengolahan informasi atau data. Data dan informasi yang telah diperoleh dengan instrumen yang dipilih dan sumber data atau sampel tertentu masih merupakan informasi atau data kasar. Informasi dan data tersebut perlu diolah agar dapat dijadikan bahan untuk menjawab pertanyaan penelitian.
5. Menarik kesimpulan penelitian. Berdasarkan hasil pengolahan data di atas, peneliti menyimpul¬kan hasil penelitian deskriptif dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian dan mensintesiskan semua jawaban terse¬but dalam satu kesimpulan yang merangkum permasalahan penelitian secara keseluruhan.
2. Studi Kasus
Studi kasus pada dasarnya mempelajari secara intensif seseorang individu atau kelompok yang dipandang mengalami kasus tertentu. Misal¬nya, mempelajari secara khusus kepala sekolah yang tidak disiplin dalam bekerja. Terhadap kasus tersebut peneliti mempelajarinya secara mendalam dan dalam kurun waktu cukup lama. Mendalam, artinya meng¬ungkap semua variabel yang dapat menyebabkan terjadinya kasus ter¬sebut dari berbagai aspek. Tekanan utama dalam studi kasus adalah mengapa individu melakukan apa yang dia lakukan dan bagaimana tingkah lakunya dalam kon¬disi dan pengaruhnya terhadap lingkungan.
Untuk mengungkap persoalan kepala sekolah yang tidak disiplin peneliti perlu mencari data berkenaan dengan pengalamannya pada masa lalu, sekarang, lingkungan yang membentuknya, dan kaitan variabel-variabel yang berkenaan dengan kasusnya. Data diperoleh dari berbagai sumber seperti rekan kerjanya, guru, bahkan juga dari dirinya. Teknik memperoleh data sangat komprehensif seperti observasi perilakunya, wawancara, analisis dokumenter, tes, dan lain-lain bergantung kepada kasus yang dipelajari. Setiap data dicatat secara cermat, kemudian dikaji, dihubungkan satu sama lain, kalau perlu dibahas dengan peneliti lain sebelum menarik kesimpulan-kesimpulan penyebab terjadinya kasus atau persoalan yang ditunjukkan oleh individu ter¬sebut. Studi kasus mengisyaratkan pada penelitian kualitatif.
Kelebihan studi kasus dari studi lainnya adalah, bahwa peneliti dapat mempelajari subjek secara mendalam dan menyeluruh. Namun kelemahanya sesuai dengan sifat studi kasus bahwa informasi yang diperoleh sifatnya subyektif, artinya hanya untuk individu yang bersangkutan dan belum tentu dapat digu¬nakan untuk kasus yang sama pada individu yang lain. Dengan kata lain, generalisasi informasi sangat terbatas penggunaannya. Studi kasus bukan untuk menguji hipotesis, namun sebaliknya hasil studi kasus dapat menghasilkan hipotesis yang dapat diuji melalui penelitian lebih lanjut. Banyak teori, konsep dan prinsip dapat dihasilkan dan temuan studi kasus.
3. Penelitian Survei
Penelitian survei cukup banyak digunakan untuk pemecahan masa¬lah-masalah pendidikan termasuk kepentingan perumusan kebijak¬sanaan pendidikan. Tujuan utamanya adalah mengumpulkan informasi tentang variabel dari sekolompok obyek (populasi). Survei dengan cakupan seluruh populasi (obyek) disebut sensus. Sedangkan survei yang mempelajari sebagian populasi dinamakan sampel survei. Untuk kepentingan pendidikan, survei biasanya mengungkap permasalahan yang berkenaan dengan berapa banyak siswa yang mendaftar dan diterima di suatu sekolah? Berapa jumlah siswa rata-rata dalam satu kelas? Berapa banyak guru yang telah me¬menuhi kualifikasi yang telah ditentukan? Pertanyaan-pertanyaan kuantitatif seperti itu diperlukan sebagai dasar perencanaan dan pemecahan masalah pendidikan di sekolah. Pada tahap selanjutnya dapat pula dilakukan perbadingan atau analsis hubungan antara variabel tersebut.
Survei dapat pula dilakukan untuk mengetahui variabel-variabel seperti pendapat, persepsi, sikap, prestasi, motivasi, dan lain-lain. Misalnya persepsi kepala sekolah terhadap otonomi pendidikan, persepsi guru terhadap KTSP, pendapat orangtua siswa tentang MBS, dan lain-lain. Peneliti dapat mengukur variabel-variabel tersebut secara jelas dan pasti. Informasi yang diperoleh mungkin merupakan hal penting sekali bagi kelompok tertentu walaupun kurang begitu bermanfaat bagi ilmu penge¬tahuan.
Survei dalam pendidikan banyak manfaatnya baik untuk memecahkan masalah-masalah praktis maupun untuk bahan dalam merumuskan kebijaksanaan pendidikan bahkan juga untuk studi pendidikan dalam hubungannya dengan pembangunan. Melalui metode ini dapat diungkapkan masalah-masalah aktual dan mendeskrip¬sikannya, mempelajari hubungan dua variabel atau lebih, membandingkan kondisi-kondisi yang ada dengan kriteria yang telah diten¬tukan, atau menilai efektivitas suatu program.
4. Studi Korelasional
Seperti halnya survei, metode deskriptif lain yang sering diguna¬kan dalam pendidikan adalah studi korelasi. Studi ini mempelajari hubungan dua variabel atau lebih, yakni sejauh mana variasi dalam satu variabel berhubungan dengan variasi dalam variabel lain. Derajat hubungan variabel-variabel dinyatakan dalam satu indeks yang dinamakan koefisien korelasi. Koefisien korelasi dapat digunakan untuk menguji hipotesis tentang hubungan antar variabel atau untuk menyatakan besar-kecilnya hubungan antara kedua variabel.
Studi korelasi yang bertujuan menguji hipotesis, dilakukan de¬ngan cara mengukur sejumlah variabel dan menghitung koefisien korelasi antara variabel-variabel tersebut, agar dapat diten¬tukan variabel-variabel mana yang berkorelasi. Misalnya peneliti ingin mengetahui variabel-variabel mana yang sekiranya berhubung¬an dengan kompetensi profesional kepala sekolah. Semua variabel yang ada kaitannya (misal latar belakang pendidikan, supervisi akademik, dll) diukur, lalu dihitung koefisien korelasinya untuk mengetahui variabel mana yang paling kuat hubungannya dengan kemampuan manajerial kepala sekolah.
Kekuatan hubungan antar variabel penelitian ditunjukkan oleh koefisien korelasi yang angkanya bervariasi antara -1 sampai +1. Koefisien korelasi adalah besaran yang diperoleh melalui perhitungan statistik berdasarkan kumpulan data hasil pengukuran dari setiap variabel. Koefisien korelasi positif menunjukkan hubungan yang berbanding lurus atau kesejajaran, koefisien korelasi negatif menunjukkan hubungan yang berbading terbalik atau ketidak-sejajaran. Angka 0 untuk koefisien korelasi menunjukkan tidak ada hubungan antar variabel. Makin besar koefisien korelasi baik itu pada arah positif ataupun negatif, makin besar kekuatan hubungan antar variabel.
Misalnya, terdapat korelasi positif antara variabel IQ dengan prestasi belajar; mengandung makna IQ yang tinggi akan diikuti oleh prestasi belajar yang tinggi; dengan kata lain terdapat kesejajaran antara IQ dengan prestasi belajar. Sebaliknya, korelasi negatif menunjukkan bahwa nilai tinggi pada satu variabel akan diikuti dengan nilai rendah pada variabel lainnya. Misalnya, terdapat korelasi negatif antara absensi (ketidakhadiran) dengan prestasi belajar; mengandung makna bahwa absensi yang tinggi akan diikuti oleh prestasi belajar yang rendah; dengan kata lain terdapat ketidaksejajaran antara absensi dengan prestasi belajar.
Dalam suatu penelitian korelasional, paling tidak terdapat dua variabel yang harus diukur sehingga dapat diketahui hubungannya. Di samping itu dapat pula dianalisis hubungan antara dari tiga variabel atau lebih.
5. Penelitian Eksperimen
Penelitian eksperimen dapat didefinisikan sebagai metode sistematis guna membangun hubungan yang mengandung fenomena sebab akibat. Penelitian eksperimen merupakan metode inti dari model penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif.
Proses penyusunan penelitian eksperimen pada prisnsipnya sama dengan jenis penelitian lainnya. Secara eksplisit dapat dilihat sebagai berikut:
1. Melakukan kajian secara induktif yang berkaitan dengan permasalahan yang hendak dipecahkan
2. Mengidentifikasikan permasalahan
3. Melakukan studi litelatur yang relevan, mempormulasikan hipotesis penelitian, menentukan definisi operasional dan variabel.
4. Membuat rencana penelitian mencakup: identifikasi variabel yang tidak diperlukan, menentukan cara untuk mengontrol variabel, memilih desain eksperimen yang tepat, menentukan populasi dan memilih sampel penelitian, membagi subjek ke dalam kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, membuat instrumen yang sesuai, mengidentifikasi prosedur pengumpulan data dan menentukan hipotesis.
5. Melakukan kegiatan eksperimen (memberi perlakukan pada kelompok eksperimen)
6. Mengumpulkan data hasil eksperimen
7. Mengelompokan dan mendeskripsikan data setiap variabel
8. Melakukan analisis data dengan teknik statistika yang sesuai
9. Membuat laporan penelitian eksperimen.
Dalam penelitian eksperimen peneliti harus menyusun variabel-variabel minimal satu hipotesis yang menyatakan hubungan sebab akibat diantara variabel-variabel yang terjadi. Variabel-variabel yang diteliti termasuk variabel bebas dan variabel terikat sudah ditentukan secara tegas oleh peneliti sejak awal penelitian. Dalam bidang pembelajaran misalnya yang diidentifikasikan sebagai variabel bebas antara lain: metode mengajar, macam-macam penguatan, frekuensi penguatan, sarana-prasarana pendidikan, lingkungan belajar, materi belajar, jumlah kelompok belajar. Sedangkan yang diidentifikasikan variabel terikat antara lain: hasil belajar siswa, kesiapan belajar siswa, kemandirian siswa.
6. Penelitian Tindakan
Penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian refleleksi-diri yang dilakukan oleh para partisipan dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki praktek yang dilakukan sendiri. Dengan demikian akan diperoleh pemahaman mengenai praktek tersebut dan situasi di mana praktek tersebut dilaksanakan. Terdapat dua esensi penelitian tindakan yaitu perbaikan dan keterlibatan. Hal ini mengarahkan tujuan penelitian tindakan ke dalam tiga area yaitu: (1) Untuk memperbaiki praktek; (2) Untuk pengembangan profesional dalam arti meningkatkan pemahaman/kemampuan para praktisi terhadap praktek yang dilaksanakannya; (3) Untuk memperbaiki keadaan atau situasi di mana praktek tersebut dilaksanakan.
Penelitian tindakan bertujuan untuk mengungkap penyebab masalah dan sekaligus memberikan langkah pemecahan terhadap masalah. Langkah-langkah pokok yang ditempuh akan membentuk suatu siklus sampai dirasakannya ada suatu perbaikkan. Siklus pertama dan siklus-siklus berikutnya yaitu: (1) penetapan fokus masalah penelitian, (2) perencanaan tindakan perbaikan, (3) pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi dan interpretasi, (4) analisis dan refleksi, dan (5) perencanaan tindak lanjut. Mengingat besarnya manfaat penelitian tindakan dalam bidang pendidikan, uraian spesifik akan dijelaskan dalam materi tersendiri.


IV. KESIMPULAN
Rancangan penelitian adalah suatu rencana, struktur dan strategi penelitian yang dimasuksudkan untuk menjawab permasalahan yang dihadapi, dengan mengupayakan optimasi yang berimbang antara validitas dalam dan validitas luar, dengan melakukan pengendalian varians.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsini. 1992. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Danim, Sudarwan. 2000. Metode Penelitian untuk Ilmu-Ilmu Perilaku. Jakarta: Bumi Aksara.
Danim, Sudarwan. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif . Bandung: Pustaka Setia.
Davis, Duane dan Conseza Robert. 1985. Business Research for Decision Making. California: Wadsworth Inc.
Leedy, Paul D. 1997. Practical Research: Planning and Design. New Jersey: Prectice Hall.
McMillan, J.H. and Schumacher, S. 2001. Research in Education. New York: Longman, Inc.
Nasution, S. 1996. Metode Penelitian Naturalistik-Kualitatif. Bandung: Tarsito.
Patilima, Hamid. (2005). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Punaji Setyosari, 2010. Metode Penelitian Pendidikan (dan Pengembangan), Jakarta: Kencana Predana Media Group.
Sudjana, N. dan Ibrahim, R. 2001. Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Sugiyono. 1997. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Pendidikan; Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sukardi. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan (Kompetensi dan Praktiknya). Jakarta: Bumi Aksara.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2005. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Strauss and Corbin. 1990. Basics of Qualitative Research. California: Sage Publication.


Artikel Terkait:

No comments:

Top Comments