Tuesday, March 8, 2011

Jangan Memakai Kacamata Kuda

Orang yang memandang setiap persoalan secara sempit, biasanya diistilahkan dengan orang yang memakai kacamata kuda: lurus ke depan, obyek disampingpun tak tampak, apalagi yang di belakang. Begitulah nasihat orang tua.

Nasihat ini ada benarnya juga. Setidaknya itu mendapat pembenaran dari penelitian ilmiah psikologi tim peneliti Bradford University Management Centre, Inggris, yang dipublikasikan BBC News On-line, pertengahan Juni 1999.

Tim peneliti itu dipimpin Dr. Alistair Ostell dan Dr. Susan Oakland. Penelitian itu membuktikan orang yang cara pandangnya kaku berisiko besar mengalami gangguan kesehatan mental. Orang-orang semacam itu akan sering terusik emosinya, entah itu karena geram, benci, kesumat, dan mereka akan uring-uringan bila nilai-nilai yang mereka genggam erat-erat sebagai pandangan pribadi dilanggar oleh orang lain, misalnya seorang guru yang begitu mudah tersulut amarahnya menghadapi murid yang dinilai kurang ajar karena mengajukan pertanyaan yang tidak sopan—menurut nilai-nilai yang dianutnya. Pendeknya, orang yang berpikir seperti kuda berkacamata biasanya punya sikap ekstrem yang fatalistik: ya atau tidak, dogmatis, sektarian, primordialistik, dan pengelompokan yang kaku. Akibatnya, orang semacam itu kurang terampil mengatasi persoalan dan sulit membangun hubungan dengan orang lain. Penelitian Ostell melibatkan 80 kepala sekolah di Inggris yang diklasifikasikan ke dalam kelompok absolutis dan nonabsolutis. Pengelompokan didasarkan pada cara mereka mengatasi masalah yang berkaitan dengan pekerjaan. Kelompok absolutis adalah mereka yang berpikir ala kacamata kuda. Sedangkan kelompok nonabsolutis adalah mereka yang bisa berpikir lebih jelas dan jernih, teguh memegang suatu pendapat tapi tidak moralistik, dan cenderung melihat persoalan dalam perspektif gradasi abu-abu. "Secara umum mereka mau bertenggang rasa dan siap bernegosiasi dengan perbedaan pandangan orang lain," kata Ostell. Mereka berbeda dengan kelompok absolutis, yang terlalu teguh memegang pendirian dan tidak bisa menoleransi perbedaan pandangan orang lain, bahkan melakukan penolakan dengan disertai amarah. Dari wawancara, terungkap bahwa para kepala sekolah yang absolutis mengaku kurang menikmati pekerjaan sehari-hari dan merasa dirinya kurang berhasil dalam mengelola emosinya. Akibatnya, tugas mereka pun banyak yang terbengkalai. Selain itu, penampilan sehari-hari mereka juga memperlihatkan kondisi fisik dan mental yang memprihatinkan. Mereka, misalnya, sering merasa gampang lelah. Bagi pribadi yang introver (tertutup), cara berpikir absolutis bahkan bisa berakibat lebih buruk. Kenapa? Ketidakmampuan menyalurkan emosi kemarahan akibat perbedaan pendapat menyebabkan peningkatan kadar hormon kortisol dalam darah. Kadar hormon yang meningkat ini akan menekan sistem kekebalan dan mengurangi ketahanan tubuh terhadap infeksi. Akibat lain, kemarahan yang terpendam juga bisa meningkatkan kadar hormon noradrenalin yang berkaitan dengan tekanan darah. Pengamatan terhadap kelompok nonabsolutis menunjukkan fenomena sebaliknya. Mereka yang berpikir terbuka dan luwes ternyata lebih mampu memecahkan persoalan secara lebih tokcer. Juga, kondisi kesehatan mereka tampak lebih sip. Karena itu, tim Ostell, yang melakukan penelitian ini untuk mengatasi problem stres di tempat kerja, menyarankan suatu pembenahan pola berpikir agar stres bisa dikelola dengan baik. Itu saran yang penting didengarkan oleh masyarakat Indonesia, yang—menurut guru besar psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono—kebanyakan cenderung berpikir secara hitam putih. Lihat saja kecenderungan dalam masyarakat yang mengelompokkan secara tegas partai-partai ke dalam golongan reformis atau status quo. Bahkan, kata Sarlito, "Orang yang berbeda cara salatnya saja sudah dianggap lawan."

Rujukan: Kelik M. Nugroho


Artikel Terkait:

No comments:

Top Comments