Monday, March 7, 2011

Pelaksanaan UN/US Membentuk Karakter Manusia Tidak Jujur, Malas Baca, Mudah Nyontek dan Korup

Fenomena-fenomena yang dialami bangsa Indonesia dewasa ini antara lain:
1. Kita sulit mencari pegawai, kasir, rekan bisnis bahkan mencari calon pemimpin yang jujur. Kalaupun ada pemimpin yang jujur, orang-orang sekelilingnya banyak yang tidak jujur sehingga menghambat kinerja sang pemimpin. Ada kasus calon pemimpin berijazah palsu, suatu bukti ketidakjujuran moral yang harus dihukum seberat-beratnya.
2. Kita sangat maju dalam praktek demokrasi, tapi hanya dalam demokrasi prosedural untuk memilih presiden, gubernur, bupati/wali kota dan sebagainya, yang acapkali diikuti dengan kerusuhan dan perkelahian. Demokrasi di negara kita belum mampu mengambil manfaat substansial dari demokrasi itu sendiri, karena kekurangan pengetahuan, dan tidak jujur satu sama lain, saling curiga, saling tuduh.
3. Lulusan sekolah pada tingkat apapun selalu ingin menjadi PNS, tidak kreatif, malas baca dan kurang percaya diri.
4. Jika ada kesempatan/peluang selalu ikut kelompok untuk korupsi, tidak mungkin menolak ajakan menyeleweng dari kelompoknya. (korupsi berjama'ah=kasus suap BI).
5. Dunia pendidikan digunakan sebagai ajang promosi, beberapa daerah berusaha meningkatkan mutu pendidikan melalui tingkat kelulusan 100% yang dilakukan dengan berbagai cara. Beberapa cara yang tidak terpuji adalah sedikit melonggarkan pengawasan dalam ujian, bila perlu guru membantu membuat jawaban kemudian dibagikan kepada siswa yang sedang di uji (ini sudah rahasia umum).

Usaha-usaha yang tidak lazim di atas, menyebabkan proses pendidikan yang dilakukan selama ini, mengarah kepada pembentukan watak, perilaku lulusan sekolah akan menjadi koruptor, tidak disiplin, tidak jujur, tidak bertanggung jawab, tidak percaya diri, dan lain sebagainya. Akibatnya bangsa kita sulit maju, para pakar menyatakan kita terpuruk dalam segala hal.

Salah satu upaya yang akan berhasil secara signifikan untuk merubah perilaku bangsa Indonesia ialah melalui proses ujian sekolah yang bersih dan jujur mulai dari tingkat bawah (SD) sampai tingkat S1, S2, dan S3. Selama ini telah bertahun-tahun negara kita melaksanakan ujian sekolah, apa yang terjadi?

Memang dunia pendidikan kita dikatakan carut marut, kusut dengan berbagai persoalan yang tidak kunjung selesai. Para pakar selalu memikirkan bagaimana mengurai benang kusut ini, darimana dimulai, simpul mana yang harus dibongkar? Kementrian Pendidikan sudah berusaha melakukan perbaikan kurikulum, menatar guru-guru, membenahi distribusi buku, proyek perpustakaan, meningkatkan dana pendidikan, memperbaiki manajemen sekolah, tapi semua ini tidak merubah keadaan.

Perilaku NYONTEK dalam proses ujian adalah simpul yang amat strategis yang perlu dibasmi dalam proses ujian dunia pendidikan kita. Kita harus mengembangkan suatu budaya DILARANG KERAS NYONTEK dalam ujian, dan harus diberikan sangsi berat dan tegas tidak pandang bulu.

Kalau diperhatikan fenomena ujian yang dihadapi oleh murid-murid dari SD-SLTP-SLTA-PERGURUAN TINGGI S1-S2-S3 dan sebagainya, selalu saja terbuka kesempatan, banyak peluang untuk nyontek. Murid sama murid nyontek, guru memberi kesempatan siswa nyontek, atau guru memberikan jawaban soal dalam ujian akhir nasional, mahasiswa S1, S2, S3 juga biasa nyontek. Di mana-mana selalu nyontek.

Pernah ada kasus, bahwa ada guru yang dilempari batu karena terlalu keras mengawas UN, guru ini menyalahi prosedur dan kebiasaan yang berlaku. Selama ini pengawas harus pura-pura tidak tahu bahwa para siswa nyontek. Jadi harus ada toleransi dari pengawas dan ini sudah biasa.

Pernah ada survey dengan memberi angket kepada para mahasiswa hasilnya, dan hasilnya sangat mengagetkan bahwa 100% mereka pernah nyontek dalam ujian. Lebih separoh diantaranya sering dan seringkali menyontek.

Akibat dari nyontek ini cukup jelas akan muncul perilaku, atau watak tidak percaya diri, tidak disiplin, tidak bertanggung jawab, tidak mau membaca buku pelajaran, tapi rajin membuat catatan kecil-kecil untuk bahan nyontek, potong kompas, menghalalkan segala macam cara, dan akhirnya menjadi koruptor.

Proses ujian yang tidak membolehkan nyontek ini harus kita budayakan di lingkungan sekolah, dan perguruan tinggi, tidak ada peluang lagi untuk nyontek.

Alasan klasik mungkin muncul untuk membiarkan berkembangnya perilaku nyontek, yaitu murid kita terlalu banyak, dalam satu kelas ada 40-50 orang, sehingga tempat duduk terlalu dekat, mudah nyontek atau kerjasama. Untuk mengatasi ini, maka murid harus dibagi dua kelompok, dan menggunakan dua ruangan, hal ini bisa diatur. Yang penting tidak ada lagi peluang untuk tidak jujur dalam ujian.

Pengaruh dari pelaksanaan ujian seperti ini adalah, siswa akan belajar giat, guru akan mengajar lebih serius, anak-anak akan rajin membaca, kegiatan siswa akan fokus pada pelajaran (bukan pacaran, bukan tawuran, mencuri, bermain-main) tapi siswa mulai berdisiplin dan bertanggung jawab, dan orang tua tidak lagi mencampuri urusan pendidikan. Semua prestasi hasil belajar, adalah benar-benar "murni" mencerminkan kemampuan anak-anak mereka. Selanjutnya UN tidak dipersoalkan lagi, UN menjadi hal yang biasa, UN sangat diperlukan pengawasan yang ketat makin ditingkatkan, perilaku jujur akan menjadi budaya nasional kita khususnya budaya jujur dalam dunia pendidikan. Yakin, perubahan budaya ini akan mengurangi perilaku korup, uang negara bisa dihemat, gaji guru bisa naik.

Nah, mulai dari hal yang sederhana ini, kita akan bisa membangun generasi anak bangsa menjadi membanggakan dan sesuai dengan yang kita idam-idamkan. Alangkah indahnya jika budaya tidak dibenarkan atau HARAM HUKUMNYA NYONTEK, NYONTEK SAMA DENGAN MALING/MENCURI mulai diterapkan di negara kita. Ini suatu usaha mudah, dan hasilnya maksimal, mari kita coba.

Jadi dibutuhkan keberanian pemegang kekuasaan, untuk mendeklarasikan "MULAI HARI INI DILARANG NYONTEK" di semua sekolah dan Perguruan Tinggi. Deklarasi ini tidak melanggar hukum, tidak pula melanggar HAM, dan tidak perlu biaya. Para pemegang kekuasaan tak perlu sungkan, malu mendeklarasikan ini karena kita semua termasuk produk yang dulu juga pernah nyontek. Yang berlalu biarlah berlalu, kita sekarang menatap masa depan membangun bangsa yang bermoral, jujur, bisa dipercaya, kreatif, dan sebagainya.


Artikel Terkait:

No comments:

Top Comments