Wednesday, May 26, 2010

Permen Karet

Seorang teman, Ody, yang kuliah manajemen pemasaran sedang study banding ke Malaysia. Dia sedang membaca buku di loby sebuah hotel tempat dia menginap.
Seorang warga Malaysia sambil mengunyah permen karet duduk disebelahnya dan mulai mengajak berbicara secara santai.
Orang Malaysia: "Kalian orang-orang Indonesia memakan keseluruhan roti ya...?
Ody: "Tentu saja!"

Orang Malaysia: "Kami tidak. Di Malaysia kami hanya memakan bagian dalamnya saja. Sedangkan bagian kulit luar roti yang kering kami kumpulkan lalu kami masukkan ke dalam kontainer, diolah, lalu kami produksi menjadi roti croissants dan kami ekspor ke Indonesia."

Si orang Malaysia lalu tersenyum puas saat melihat Ody terdiam tanpa bisa berbicara apa-apa.

Orang Malaysia: "Apakah kamu juga memakan roti dengan selai?"
Ody: "Tentu saja!"

Orang Malaysia: "Kami tidak (sambil tertawa kecil). Di Malaysia kami makan buah segar pada saat makan pagi. Kami kupas kulitnya, keluarkan isinya dan kami kumpulkan kulitnya di kontainer, diolah, lalu kami produksi menjadi selai. Setelah itu kami ekspor ke Indonesia."

Kali ini, si Ody balas bertanya: "Apakah kalian, orang-orang Malaysia melakukan hubungan seks?"

Orang Malaysia: "Kenapa? Tentu saja kami melakukan hubungan seks."

Ody: "Apakah kalian menggunakan 'pengaman'?"

Orang Malaysia: "Tentu saja!! Kami menggunakan kondom."

Ody: "Lalu, apa yang kalian lakukan dengan kondom yang telah digunakan?"

Orang Malaysia: "Kami buang, tentu saja."

Ody: "Kami tidak. Di Indonesia, pemerintah secara diam-diam memasukkan kondom-kondom tersebut ke dalam kontainer, kami lebur, lalu kami olah menjadi permen karet dan kami ekspor ke Malaysia. Itulah alasan yang sebenarnya kenapa kami orang Indonesia dilarang makan permen karet."

Orang Malaysia: "?????....hekkkkkh."

(Lalu orang Malaysia itu diam-diam membuang permen karet dari mulutnya...)


Artikel Terkait:

No comments:

Top Comments