Saturday, July 24, 2010

"Tarif Listrik Naik Lagi, Rakyat Dikorban Lagi"

Pada Selasa, 15 Juni lalu, rapat kerja Komisi VII DPR dengan Menteri ESDM Darwin Saleh akhirnya menyetujui kenaikan TDL untuk semua pelanggan. Kenaikannyabervariasi. Yang terkecil golongan industri berdaya 1.300-2.200 VA naik 6%. Yang paling besar golongan rumah tangga berdaya 1.300-5.500 VA naik 18%. Adapun golongan rumah tangga berdaya 450-900 VA tidak dinaikkan.

Kenaikkan TDK itu konon dilakukan untuk menutupi kekurangan subsidi listrik. Menurut perhitungan, subsidi listrik pada APBN-P 2010, biaya poko penyediaan (BPP) tenaga listrik Rp. 144,35 triliun. Tingkat pendapatan yang dibutuhkan PLN (BPP ditambah 8% margin usaha)Rp. 155,90 triliun. Padahal pendapatan penjualan tenaga listrik Rp. 95,8 triliun. Jadi, kebutuhan subsidi listrik tahun 2010 semestinya Rp. 60 triliun. Namun, alokasi subsidi yang disetujui DPR dalam APBN-P 2010 hanya sebesar Rp. 55,15 triliun, artinya masih kurang Rp. 4,85 triliun. Kekurangan dana itulah yang harus ditutup oleh pelanggan golongan mampu lewat kenaikan TDL.

Dampak Kenaikan Tarif Listrik
Kenaikan TDL itu hampir bisa dipastikan akan mengakibatkan kenaikan harga-harga barang kebutuhan. Sebab, semua produsen mulai dari bahan mentah hingga produk setengah jadi pasti akan menaikkan harga jual produknya sehingga kenaikkan harga produk akhir akan cukup besar. Ironisnya, kenaikan harga itu bisa terjadi pada sebagian besar barang kebutuhan. Kenaikan harga barang-barang itu akan dirasakan oleh semua orang. Bagi kelompok masyarakat pelanggan listrik 450-900 VA, kenaikan harga-harga itu pasti akan terasa berat. Sebab, mereka sebagian besar-kalau tidak seluruhnya-berpenghasilan minim. Mereka itu diantaranya adalah petani, buruh tani, pedagang asongan, buruh pabrik, pekerja serabutan dan sejenisnya. Bagi kalangan petani, kenaikan harga itu menjadi pukulan kedua setelah pada awal April lalu harus menghadapi kenaikan harga pupuk hingga 45%.

Kalangan industri juga akan merasakan dampak kenaikan TDL itu meski bervariasi tingkatnya. Industri dengan biaya listrik besar seperti industri tekstil, meubel, semen, kaca lembaran, baja, roti, termasuk berhotelan terutama kelas melati, dsb, akan sangat terpengaruh. Bagi industri, solusi menaikkan harga jual produk hampir tidak mungkin karena daya saing produk akan akan kalah dibandingkan dengan produk lain terutama impor. Karena itu, agar bisa bertahan, yang paling mungkin adalah mengurangi produksi, atau memangkas biaya lain, dan ujung-ujungnya adalah melakukan PHK. Lagi-lagi kelompok masyarakat kecillah yang harus menanggung akibat paling fatal.


Artikel Terkait:

1 comment:

ppob said...

naik terus, kapan turunya.
kasihan para rakyat ditekan terus,
hikz.. hikz.. hikz..

Top Comments