Friday, April 9, 2010

Prisoner Dilemma, Nash Equilibrium and Tit-for-Tat: to Manage Economy?

Ketika akan membeli sebuah mobil kita biasanya hanya bisa mendapatkan harga pada batas minimum tertentu. Padahal dengan harga tersebut, pihak dealer sudah mendapatkan keuntungan tentunya. Meskipun kita ingin membeli dua buah mobil sekaligus, dealer tetap tidak mau menjual dibawah batas harga. Tapi terkadang kita diminta untuk bertemu langsung dengan pihak manajer untuk berbicara empat mata. Nah kenapa hak tersebut bisa terjadi?.....

Nash equilibrium atau keseimbangan Nash adalah sebuah situasi ketika setiap pemain memilih strategi optimalnya, untuk menghadapi strategi yang telah dilakukan oleh pemain lainnya.
Tapi terkadang terjadi kecurangan dan tidak mengikuti kesepakatan sehingga outcome cenderung tidak inferior bahkan lebih buruk dari kemungkinan yang ada.
Pernah suatu ketika kami jalan-jalan ke Glodok berniat untuk melihat-lihat dan kalau ada kecocokan akan membeli laptop. Setelah terjadi tawar menawar si penjual tetap tidak mau menjual di bawah harga meskipun kami membeli laptop lebih dari dua buah. Akhirnya si penjaga stand membawa kami ke manajer untuk berbicara empat mata.Si manajer akhirnya memberi harga dibawah standar namun harga yang tertulis di kuitansi lebih tinggi dari harga yang disepakati. Si manajer meminta untuk merahasiakan hal ini dan apabila ada yang bertanya maka dijawab seperti tertera di kuitansi.

Prisoner dilemma menggambarkan bahwa kesepakatan dua pelaku ekonomi sangat sulit untuk berkesinambungan meskipun kesepakatan tersebut menguntungkan kedua pelakunya. Hal ini terjadi karena adanya sebuah kesepakatan berarti bahwa pelaku ekonomi melakukan komitmen untuk memilih strategi tertentu dalam sebuah permainan. Dengan demikian, meskipun permainan tersebut belum dimulai, masing-masing pelaku ekonomi mengerti strategi lawannya. Masing-masing pelaku ekonomi mengasumsikan bahwa strategi lawannya sebagai faktor penentu. Akibatnya, masing-masing pelaku ekonomi berpotensi untuk memilih strategi yang berbeda dari strategi kesepakatan, jika dengan melakukan pelanggaran tersebut, lebih menguntungkan dibanding mengikuti strategi kesepakatan.
Untuk mencegah agar tidak terjadi kecurangan apabila ada repetisi dalam scenario prisoners dilemma, strategi terbaik yang dapat ditempuh adalah tit-for-tat.
Agar strategi tit-for-tat dapat berfungsi dengan baik, beberapa kondisi harus dipenuhi. Pertama, diperlukan sekumpulan pemain yang stabil. Jika pemainnya sering berganti-ganti, kecil kemungkinan berkembangnya perilaku kooperatif. Kedua, jumlah pemain harus sedikit (jika tidak, sangat sulit untuk memantau apa yang dilakukan oleh setiap pemain). Ketiga, diasumsikan bahwa setiap perusahaan dapat dengan cepat mendeteksi (dan mau serta mampu membalas dengan cepat) kecurangan oleh perusahaan lain. Kecurangan yang tidak terdeteksi dalam waktu yang lama akan mendorong terjadinya kecurangan lebih lanjut. Keempat, kondisi permintaan dan biaya harus relative stabil (kalau selalu berubah, sangatlah sulit mendefinisikan mana perilaku yang kooperatif dan mana yang bukan). Kelima, kita harus mengasumsikan bahwa permainan tersebut terus berulang-ulang tanpa batas, atau dalam jumlah pengulangan yang sangat besar dan tidak pasti.



Dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam dunia bisnis, aturan main tit-for-tat mampu meminimalisir kecurangan. Hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: Lakukan apa yang oleh lawan kepada Anda. Artinya, Anda memulai dengan bekerja sama dan akan terus bekerja sama selama lawan Anda juga bekerja sama. Jika dia berkhianat, selanjutnya Anda juga kembali berkhianat kepadanya. Jika kemudian dia bekerja sama, selanjutnya Anda juga bekerja sama. Strategi ini cukup bersifat saling membalas sehingga dapat mencegah perilaku non kooperatif, tetapi cukup pemaaf sehingga memungkinkan berkembangnya pola kerja sama yang bermanfaat.
Akan tetapi, disekitar kita masih banyak fenomena kecurangan terjadi. Hal ini disebabkan karena implementasi strategi ini tidak konsisten diterapkan, punishment tidak dilaksanakan sebaimana mana mestinya dan terkadang lemah. Do unto others as you would have them do onto you.


Sumber:"Managerial Economics" by Dominick Salvatore



Artikel Terkait:

No comments:

Top Comments