Wednesday, June 2, 2010

Bunga Krisan tentang Pemanjat-Pemanjat Gunung

Oleh: Mars Mattola

Dua tangkai bunga krisan terbuai-buai
ditiup angin semilir, pagi-pagi sejuk.
Keduanya merasa terganggu ketika
serombongan kaki-kaki manusia satu-satu
lewat amat dekat-dekat menepis-nepis
batu-batu gunung yang besar-besar
menimpa mereka dengan tajamnya, selalu.

"Dipikir-pikir tak habis-habis, kenapa
manusia-manusia itu banyak-banyak yang
ingin ke atas. Padahal tidak sedikit-sedikit
yang jatuh-jatuh," ujar krisan yang
muda-muda yang berputik
cerlang-cemerlang dengan pelan-pelan.
"Mereka pemanjat-pemanjat gunung,
ingin dipuja-puji dan...,"tiba-tiba
ucapan krisan-krisan tua berhenti. Hujan
menderam-deram tiba-tiba, dan
mengalir-alirkan air-airnya dan
menyeret-nyeret kata-kata krisan-krisan
tua ke lembah yang tiba-tiba sunyi-senyap.
Lelawa beterbangan, hari telah sore.
Terdengar hiruk-pikuk suara
Pemanjat-pemanjat gunung. "Mana dia, itu
...ambil tali, di sana...! Krisan-krisan
menutup telinga tidak tega mendengar
mereka membantu yang jatuh.
Kau dengarlah, satu lagi terperosok,"
ujar krisan tua. Krisan berputik
cerlang-cemerlang tiba-tiba wajahnya
kelam, seperti hari yang menyungkup.
Tampak air mata duka mengalir di
wajahnya, seperti di wajah batu-batu padas
yang diberitahu lelawa. Dan senja pun
berangkat setia



Artikel Terkait:

No comments:

Top Comments