Thursday, September 30, 2010

Abu Hafshin Al-Haddad: Taubatnya Si Pemabuk Asmara

Abu Hafshin Al-Haddad adalah seorang pandai besi. Ketika masih remaja, Abu Hafshin jatuh cinta kepada seorang gadis pelayan. Ia demikian tergila-gila sehingga tak dapat hidup dengan tenang.
Melihat keadaan itu sahabat-sahabatnya memberi saran, "Ada seorang dukun Yahudi yang tinggal di pinggiran kota Nishapur. Ia tentu dapat menolongmu".

Maka pergilah Abu Hafshin ke dukun Yahudi itu dan menerangkan kasus yang dihadapinya.
Si Yahudi menerangkan kasus yang dihadapinya.
Si Yahudi menyarankan, "Selama empat puluh hari janganlah engkau shalat, dengan cara bagaimanapun janganlah engkau patuhi perintah Allah, dan jangan lakukan perbuatan-perbuatan baik. Selama itu pula jangan engkau sebut-sebut nama Allah dan sama sekali jangan memikirkan hal-hal yang baik. Setelah semua ini kau lakukan, barulah aku sanggup dengan sihirku membuat kehendakmu tercapai'.

Selama empat puluh hari ia melaksanakan nasehat si dukun Yahudi.Setelah itu si dukun Yahudi membuatkan sebuah jimat untuknya. Tetapi selama itu tak membuahkan hasil.

Ketika dia menemui si dukun, Yahudi itu berkata, "Sudah pasti bahwa selama ini kau pernah melakukan perbuatan baik, jika tidak, tentu tujuanmu telah tercapai".

"Tak ada pelanggaran yang aku lakukan," kata Abu Hafshin membela diri. "Satu-satunya kebajikan yang kulakukan adalah menyepak sebuah batu ketika aku datang kemari agar tidak ada orang yang tersandung karenya".

Si Yahudi mencela, "Janganlah menjengkelkan Allah yang perintah-perintah-Nya hendak engkau tentang selama empat puluh hari. Dia takkan menyia-nyiakan kemurahan-Nya walau untuk kebajikan kecil seperti yang telah engkau lakukan".

Kata-kata itu mengobarkan api di dalam dada Abu Hafshin. Demikian dahsyatnya api itu berkobar sehingga Abu Hafshin bertaubat melalui si Yahudi itu.

Abu Hafshin meneruskan usahanya sebagai pandai besi. Ia menyembunyikan keajaiban-keajaiban yang telah terjadi pada dirinya. Setiap hari ia memperoleh satu dinar. Dan setiap malam pula uang satu dinar itu diberikannya kepada orang-orang miskin. Atau secara sembunyi diletakkannya pada kotak surat para janda. Kemudian ketika waktu Isya' telah tiba, ia pun pergi mengemis dan dengan uang yang diperolehnya melalui cara ini ia berbuka puasa. Kadang ia mengumpulkan bawang atau lainnya sisa-sisa yang terdapat di kamar cuci umum lalu dicuci dan dijadikan santapannya.

Demikianlah perilaku Abu Hafshin untuk beberapa lama. Pada suatu hari seorang buta berjalan di dalam pasar sambil membaca ayat, "Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Maka akan ditunjukkan Allah kepada mereka yang tak pernah mereka sangka sebelumnya..."

Ayat ini menyesakkan dada Abu Hafshin sehingga ia tak sadarkan diri. Pada suatu ketika disaat ia dibengkel pandai besinya, sebagai ganti jepitan ia masukkan tangannya ke dalam tungku perapian untuk mengambil sepotong besi yang sedang panas membara. Besi itu ia taroh di atas paron untuk dipalu anak buahnya. Semua anak buah Abu Hafshin terkejut, betapa Abu Hafshin menempa besi panas itu dengan tangannya sendiri, sama sekali tak mempergunakan jepitan besi.

"Tuan, apakah yang engkau perbuat ini?" tanya anak buahnya.
"Cepat palu!" perintah Abu Hafshin.
"Tuan, apakah yang harus kami palu?" tanya mereka keheranan. "Besi ini telah bersih."

Barulah Abu Hafshin sadar. Dilihatnya besi yang membara ditangannya dan didengarnya seruan-seruan anak buahnya, "Besi itu telah bersih. Apakah yang harus kami palu?"

Sontak besi itu dilemparkannya. Bengkel itu ditinggalkannya dan siapapun boleh mengurusnya.

"Sudah lama aku sebenarnya ingin meninggalkan usaha ini, tapi tak bisa. Akhirnya kejadian ini menimpa diriku dan secara paksa membebaskanku. Betapapuna aku mencoba meninggalkan usaha itu, namun sia-sia, akhirnya usaha itu sendiri yang meninggalkanku".

Sesudah itu, Abu Hafshin menjalani kehidupan dengan disiplin diri yang keras. Menyepi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.


Artikel Terkait:

No comments:

Top Comments