Wednesday, December 15, 2010

Fakta-fakta Terselubung Kerajaan Majapahit

Sejarah itu adalah versi atau sudut pandang orang yang membuatnya, ujar seorang sejarawan. Versi ini sangat tergantung dengan niat atau motivasisi pembuatnya. Barangkali ini pula yang terjadi dengan Majapahit, sebuah kerajaan maha besar masa lampau yang pernah ada di negara yang kini disebut Indonesia. Kekuasaannya membentang luas hingga mencakup sebagian besar negara yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara.

Namun demikian, ada sesuatu yang ‘terasa aneh’ menyangkut kerajaan yang puing-puing peninggalan kebesaran masa lalunya masih dapat ditemukan di kawasan Trowulan Mojokerto ini. Sejak memasuki Sekolah Dasar, kita sudah disuguhi pemahaman bahwa Majapahit adalah sebuah kerajaan Hindu terbesar yang pernah ada dalam sejarah masa lalu kepulauan Nusantra yang kini dkenal Indonesia. Inilah sesuatu yang terasa aneh tersebut.

Pemahaman sejarah tersebut seakan melupakan beragam bukti arkeologis, sosiologis dan antropologis yang berkaitan dengan Majapahit yang jika dicerna dan dipahami secara ‘jujur’ akan mengungkapkan fakta yang mengejutkan sekaligus juga mematahkan pemahaman yang sudah berkembang selama ini dalam khazanah sejarah masyarakat Nusantara.

‘Kegelisahan’ semacam inilah yang mungkin memotivasi Tim Kajian Kesultanan Majapahit dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta untuk melakukan kajian ulang terhadap sejarah Majapahit. Setelah sekian lama berkutat dengan beragam fakta-data arkeologis, sosiologis dan antropolis, maka Tim kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku awal berjudul ‘Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah Yang Tersembunyi’.

Buku ini hingga saat ini masih diterbitkan terbatas, terutama menyongsong Muktamar Satu Abad Muhammadiyah di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu. Sejarah Majapahit yang dikenal selama ini di kalangan masyarakat adalah sejarah yang disesuaikan untuk kepentingan penjajah (Belanda) yang ingin terus bercokol di kepulauan Nusantara.

Akibatnya, sejarah masa lampau yang berkaitan dengan kawasan ini dibuat untuk kepentingan tersebut. Hal ini dapat pula dianalogikan dengan sejarah mengenai PKI. Sejarah berkaitan dengan partai komunis ini yang dibuat dimasa Orde Baru tentu berbeda dengan sejarah PKI yang dibuat di era Orde Lama dan bahkan era reformasi saat ini. Hal ini karena berkaitan dengan kepentingan masing-masing dalam membuat sejarah tersebut.

Dalam konteks Majapahit, Belanda berkepentingan untuk menguasai Nusantara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Untuk itu, diciptakanlah pemahaman bahwa Majapahit yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia adalah kerajaan Hindu dan Islam masuk ke Nusantara belakangan dengan mendobrak tatanan yang sudah berkembang dan ada dalam masyarakat.

Apa yang diungkapkan oleh buku ini tentu memiliki bukti berupa fakta dan data yang selama ini tersembunyi atau sengaja disembunyikan. Beberapa fakta dan data yang menguatkan keyakinan bahwa kerajaan Majpahit sesungguhnya adalah kerajaan Islam atau Kesultanan Majapahit adalah sebagai berikut:

1. Ditemukan atau adanya koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’. Koin semacam ini dapat ditemukan dalam Museum Majapahit di kawasan Trowulan Mojokerto Jawa Timur. Koin adalah alat pembayaran resmi yang berlaku di sebuah wilayah kerajaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sangat tidak mungkin sebuah kerajaan Hindu memiliki alat pembayaran resmi berupa koin emas bertuliskan kata-kata Tauhid.


2. Pada batu nisan Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang selama ini dikenal sebagai Wali pertama dalam sistem Wali Songo yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah Qadhi atau hakim agama Islam kerajaan Majapahit. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Agama Islam adalah agama resmi yang dianut oleh Majapahit karena memiliki Qadhi yang dalam sebuah kerajaan berperan sebagai hakim agama dan penasehat bidang agama bagi sebuah kesultanan atau kerajaan Islam.

3. Pada lambang Majapahit yang berupa delapan sinar matahari terdapat beberapa tulisan Arab, yaitu shifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan dzat. Kata-kata yang beraksara Arab ini terdapat di antara sinar-sinar matahari yang ada pada lambang Majapahit ini.

Untuk lebih mendekatkan pemahaman mengenai lambang Majapahit ini, maka dapat dilihat pada logo Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, atau dapat pula dilihat pada logo yang digunakan Muhammadiyah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Majapahit sesungguhnya adalah Kerajaan Islam atau Kesultanan Islam karena menggunakan logo resmi yang memakai simbol-simbol Islam.

4. Pendiri Majapahit, Raden Wijaya, adalah seorang muslim. Hal ini karena Raden Wijaya merupakan cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam Pasundan yang mengajarkan hidup prihatin layaknya ajaran-ajaran sufi, sedangkan neneknya adalah seorang muslimah, keturunan dari penguasa Sriwijaya. Meskipun bergelar Kertarajasa Jayawardhana yang sangat bernuasa Hindu karena menggunakan bahasa Sanskerta, tetapi bukan lantas menjadi justifikasi bahwa beliau adalah seorang penganut Hindu.

Bahasa Sanskerta di masa lalu lazim digunakan untuk memberi penghormatan yang tinggi kepada seseorang, apalagi seorang raja. Gelar seperti inipun hingga saat ini masih digunakan oleh para raja muslim Jawa, seperti Hamengku Buwono dan Paku Alam Yogyakarta serta Paku Buwono di Solo.

Di samping itu, Gajah Mada yang menjadi Patih Majapahit yang sangat terkenal terutama karena Sumpah Palapanya ternyata adalah seorang muslim. Hal ini karena nama aslinya adalah Gaj Ahmada, seorang ulama Islam yang mengabdikan kemampuannya dengan menjadi Patih di Kerajaan Majapahit. Hanya saja, untuk lebih memudahkan penyebutan yang biasanya berlaku dalam masyarakat Jawa, maka digunakan Gajahmada saja. Dengan demikian, penulisanGajah Mada yang benar adalah Gajahmada dan bukan ‘Gajah Mada’.

Pada nisan makam Gajahmada di Mojokerto pun terdapat tulisan ‘LaIlaha Illallah Muhammad Rasulullah’ yang menunjukkan bahwa Patih yang biasa dikenal masyarakat sebagai Syeikh Mada setelah pengunduran dirinya sebagai Patih Majapatih ini adalah seorang muslim.

5. Jika fakta-fakta di atas masih berkaitan dengan internal Majapahit, maka fakta-fakta berikut berhubungan dengan sejarah dunia secara global. Sebagaimana diketahui bahwa 1253 M, tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan menyerbu Baghdad. Akibatnya, Timur Tengah berada dalam situasi yang berkecamuk dan terjebak dalam kondisi konflik yang tidak menentu.

Dampak selanjutnya adalah terjadinya eksodus besar-besaran kaum muslim dari TimurTengah, terutama para keturunan Nabi yang biasa dikenal dengan‘Allawiyah. Kelompok ini sebagian besar menuju kawasan Nuswantara (Nusantara) yang memang dikenal memiliki tempat-tempat yang eksotis dan kaya dengan sumberdaya alam dan kemudian menetap dan beranak pinak di tempat ini. Dari keturunan pada pendatang inilah sebagian besar penguasa beragam kerajaanNusantara berasal, tanpa terkecuali Majapahit.

Inilah beberapa bukti dari fakta dan data yang mengungkapkan bahwa sesungguhnya Majapahit adalah Kesultanan Islam yang berkuasa di sebagian besar kawasan yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara ini. Sekali lagi terbukti bahwa sejarah itu adalah versi, tergantung untuk apa sejarahitu dibuat dan tentunya terkandung di dalamnya beragam kepentingan.Wallahu A’lam Bishshawab. Hanya Tuhan Yang Maha Mengetahui.


Artikel Terkait:

1 comment:

Renny Masmada said...

Upaya untuk terus mencari fakta atas eksistensi sejarah adalah pekerjaan cerdas yang sangat mengagumkan. Namun sebelum analisis/hipotesis itu 'juga' terlanjur diyakini masyarakat luas, ada baiknya melakukan pendekatan apapun,termasuk empirik, terhadap upaya tersebut. Setidaknya 'juga' muncul pertanyaan seperti berikut:
1. Dengan adanya/ditemukan koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’, berarti bahwa koin itu menjadi alat tukar resmi saat itu? Apa tidak mungkin koin-koin itu hanya 'pernah' terbawa oleh salah seorang pengelena Islam saat itu? 2. Kalau agama Islam menjadi agama resmi Majapahit saat itu, kenapa tidak ada kakawin, serat dan prasasti saat itu yang mengabarkan bahwa agama resmi Majapahit Islam? Dan kenapa Kitab Agama yang saat itu dipakai adalah Kutaramanawa Dharmasastra, bukan Al-Quran atau Sunah Rasul Muhammada SAW?
3. Betul bahwa salah satu lambang Majapahit adalah yang berupa delapan sinar matahari. Tetapi tidak ada tulisan arabnya. Kalau pernah ditemukan yang bertuliskan arab, pernah dicek umur pembuatannya? Kita tidak bisa mengacu pada logo Universitas Gadjah Mada atau Muhammadiyah yang dibuat jauh setelah Majapahit runtuh.
4. Pernyataan bahwa Raden Wijaya adalah seorang muslim harus gugur karena Raden Wijaya tidak pernah dimakamkan dengan cara Islam. Menurut Nagarakretagama pupuh XLVII/3, raja Kertarajasa Jayawardhana, pendiri Majapahit dicandikan di Simping, jenazahnya dimakamkan di Antahpura (istana). Bahkan di Nagarakretagama pupuh LXXVII/3 toponim Trawulan disebut sebagai tempat makam rajadiraja.
Bahwa Raden Wijaya merupakan cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam Pasundan, tidak punya nilai kesejarahan. Darimana sumber sejarahnya? Beberapa prasasti jelas menunjukan bahwa Raden Wijaya bukan penganut Islam, dengan urutan silsilah yang dapat dipertanggungjawabkan melalui serat, kakawin maupun Prasasti (yang bukan ditulis oleh orang Belanda). Yang lebih membingungkan lagi dengan 'mengutak-atik' nama Gajah Mada jadi Gaj Ahmada. maksudnya gimana? Dasar sejarah dan bukti ilmiahnya bersumber dari mana?
Nama dan kinerja Gajah Mada setidaknya tercatat di beberapa naskah dan prasasti, di antaranya:
a. NAGARAKRETAGAMA,12.4 :10,
19.2:17,49.3:36, 63.1:48, 65.2:49, 66.2:51, 70.3: 54, 17.1,2,3 55.
b. PARARATON, 26, 27, 28, 29
c. PRASASTI BLITAR
d. LEMPENGAN TEMBAGA BATUR
e. PRASASTI BENDASARI
f. PRASASTI PRAPANCASARAPURA
g. PRASASTI SINGASARI
h. PRASASTI WALANDIT
i. KIDUNG SUNDA
j. CARITRA RAJA BANJAR DAN RAJA KOTA WARINGIN
k. HIKAYAT HANG TUAH
l. BABAD PUNGAKAN TIMBUL
m. BABAD TRIWANGSA,
n. PRASASTI GAJAH MADA
o. NAWANATYA, KAPRAJNYANIRA KRYAN APATIH GAJAH MADA
p. GAJAH MADA (Wetboek)
q. BABAD GAJAH MADA
r. KAKAWIN GAJAH MADA
Sedang beberapa kakawin/serat bahkan prasasti jelas-jelas membukukan nama Gajah mada tanpa penjelasan mengenai keislamannya.
5. Eksodus besar-besaran kaum muslim dari Timur Tengah, menuju kawasan Nusantara sangat berpengaruh dalam penyebaran Islam, mungkin itu benar. Tapi tidak terjadi pada masa Majapahit, tapi sejak masa Demak. Sehingga dengan jelas terlihat akulturasi Islam terhadap Hindu dan budha saat itu sangat kental.
Komentar ini mudah-mudahan dapat memberikan pemikiran tambahan atas analisis atau hipotesis mengenai judul di atas.

Terimakasih.

Salam Nusantara..!
Renny Masmada
www.rennymasmada.com

Top Comments