Wednesday, January 4, 2012

"Ulang Tahun, Sebuah Versi"

Entah bagaimana asal muasalnya, masyarakat kita nampaknya sudah membudayakan ulang tahun. Dimana-mana bisa disaksikan, terutama dikawasan yang disebut kota. Setahun sekali, dikenanglah hari kelahiran itu. Caranya pun bermacam-macam. Ada yang merenung semalam suntuk, ada yang berpuasa mensyukuri nikmat umur yang telah diberikan oleh Allah SWT., ada juga yang meniup lilin berlambang angka umurnya, dan dilanjutkan dengan pemotongan kue atau tumpeng.
Apapun caranya, bila dilihat dari kacamatan materi, bervariasi tingkatannya. Terutama anak muda biasa, tak cukup dengan meniup lilin dan memotong kue. Sering disertai dengan senda gurau, permainan, ditambah disco atau dansa barangkali, bahkan plus minuman memabukkan.

Yang lebih kaya lagi,misalnya kalangan konglomerat ataw pejabat, tentu saja lebih besar lagi membuat pesta. Uang berjuta-juta dikeluarkan untuk merayakan ulang tahun. Rekan bisnis, dan sobat lainnya diundang. Merayakannya di kelas kantong tebal, dan bisa jadi ditambah booking kamar, for what?....entahlah.
Indah dan meriah. Ucapan selamat pun bertubi-tubi. Uang tak jadi soal, karena esok dapat dicari lagi. Sejumlah besar rakyat yang masih hidup dibawah garis kemiskinan, tidur di kolong jembatan, tidak punya cukup uang untuk membiayai sekolah anaknya...itu tak terpikirkan. Demi bisnis kelas kakap, demi jabatan yang basah-basahan. Demi status sosial tingkat atas. Padahal uang yang dihamburkan itu, jika dihitung, setidaknya bisa untuk makan 5 ribuan mulut rakyat dalam sehari-hari.
Ulang tahun dianggap sebagai kesempatan untuk meluaskan sepak terjangnya di dunia yang fana ini. Umur yang sebenarnya semakin pendek, paling-paling hanya diulas dalam kata. Penyesalan terhadap tahun yang silam hanya ironi.
Bagi yang biasa berulang tahun, memang tanpa merayakannya terasa hambar.
bagaimana dengan Anda, silahkan komen di bawah artikel ini)***


Artikel Terkait:

No comments:

Top Comments