Showing posts with label Kisah Teladan. Show all posts
Showing posts with label Kisah Teladan. Show all posts

Saturday, January 22, 2011

Hukum di Indonesia: Serba Palsu. Persidangan Hanya Sandiwara

Suatu hari, Nasruddin diminta oleh seseorang untuk menjadi saksi palsu di sebuah persidangan, tentu saja dengan imbalan uang.
"Pokoknya, kamu harus mengatakan bahwa aku telah meminjamkan sekarung terigu kepada si Fulan!"
Nasruddin manggut-manggut tanda mengerti. Singkat cerita, tibalah hari persidangan. Nasruddin dipanggil oleh hakim.
Hai Nasruddin! Berikanlah kesaksianmu!" pinya hakim.
Nasruddin maju dan memandang sekelilingnya.
"Ya, saya memang melihat orang itu meminjamkan sekarung kentang kepada si Fulan!"
Hakim dan orang yang menyuapnya terkejut. Hakim bertanya. " Hai Nasruddin! Ini kasus soal pinjam meminjam terigu bukan kentang!"
"Saya tahu Tuan Hakim, tapi apakah bedanya terigu dengan kentang kalau saksinya palsu, tuntutannya juga dusta?"

Kisah diatas adalah olok-olok si penutur kisah Nasruddin terhadap perilaku hakim di negaranya. Konon, ketika itu hukum diperjualbelikan dan persidangan hanya formalitas belaka, sekedar memenuhi syarat proses pengambilan keputusan yang sesungguhnya sudah diketahui orang yang berperkara. Artinya, tanpa perkara digelar lewat persidangan pun, pihak yang berperkara sudah tahu hasil akhir kasus mereka. Dan, tentu saja kekalahan ada dipihak yang tidak mampu membayar hakim.

Untuk mereka yang mempunyai kekuasaan dan atau mampu membayar mahal "penegak hukum", sudah dapat dipastikan akan memenangkan perkara di persidangan nanti. Sebab, vonis hakim sudah jatuh sebelum palu diketuk sang hakim. Konon lagi, transaksi jual beli "keputusan hakim" ini terjadi secara transparan, terang-terangan, dan dimana saja tempatnya. Baik hakim maupun orang yang mempunyai uang untuk membayar hakim, tidak malu-malu bertransaksi hukum di depan publik. Tidak perlu ada mafia peradilan yang secara sembunyi-sembunyi dan dibalik dinding mengatur sebuah perkara. Sungguh sebuah potret buram dunia peradilan, negara tempat Nasruddin tinggal itu. (bandingkan dengan kisah Gayus, sang mafia pajak, kok mirip ya?)

Di tengah suasana seperti itu, hati nurani tidak mendapatkan tempat. Kalaupun ada tempat untuknya, itu ada di dalam dada orang-orang miskin yang terlibat kasus dan mereka tidak mempunyai uang untuk membela hak-hak mereka. Kitab undang-undang hanya seonggok kertas berisi kalimat-kalimat tak bermakna. Para "penegak hukum" menafsirkan kalimat-kalimat itu seenak perutnya dan seenak perut orang yang membayarnya untuk memenangkan perkara.

Kondisi yang terjadi ratusan tahun yang di alami Nasruddin di negaranya, saat ini juga terjadi di negeri kita. Bukan rahasia lagi kalau ada orang yang mengatakan hukum di Indonesia bisa dibeli. Bahkan, ada yang, karena kekuasaan dan pengaruhnya, mengatakan dengan enteng, "Berperkara di Indonesia sih enak, karena keadilan bisa dibeli!". Sesungguhnya yang dimaksud dengan keadilan bagi mereka tidak lain adalah "kemenangan", bukan keadilan yang dipahami menurut hukum.

Bagi kaum dhuafa, kalau mereka "memaksakan diri" berharap, siap-siaplah untuk kecewa. Tidak ada keadilan bagi rakyat kecil, rakyat jelata. Hak-hak keadilan mereka, juga hak-hak lain yang enak-enak dan menyenangkan hati mereka, hanya sampai telinga saat para politisi yang memburu jabatan dan kekuasaan teriak-teriak berkampanye sampai mulutnya berbusa-busa. Sesudah kekuasaan politik mereka dapatkan, maaf, good bye rakyat kecil!.

Kalau pun toh, para pelaku kejahatan yang berduit ini masuk penjara. Mereka tidak akan pernah merasakannya. Karena dipenjara pun mereka masih bebas keluar masuk. Seperti kasus sang mafia pajak, Gayus Tambunan, yang bebas keluar masuk penjara untuk plesiran ke dalam dan luar negeri. Sampai ada orang yang membuatkan lagu khusus untuk Gayus.

Di negeri kita ini, hakim bukanlah si pemutus perkara berdasarkan hukum dan hati nurani, melainkan sekedar pelaksana putusan yang sudah diambil "Mr.X". Jaksa bukan juga penuntut. Dia hanya mengikuti aturan main yang sudah diplot sebuah kekuatan. Dan, pembela? Dia sedang membela hak-hak keadilan dan kemanusiaan terdakwa. Dia sedang menjalankan profesinya sebagai pengacara yang dibayar klien.

Nah, bagaimana pendapat Anda? Silahkan beri komentar di bawah postingan ini.

Monday, January 17, 2011

Gawat: Rumah Mewah Laksana Kuburan

Rumah yang sempit, gelap, dan pengap hampir sama dengan kuburan: tempat bangkai manusia ditimbun. Berarti, manusia yang tinggal di dalam rumah itu adalah mayat-mayat, bangkai-bangkai, atau, paling tidak, sama "derajatnya" dengan mayat dan bangkai. Manusia-manusia yang tidak berjiwa. Manusia-manusia yang kaku dan tanpa gerak sebagai tanda-tanda tidak adanya kehidupan.

Betapa banyak kita mendapati rumah-rumah megah dan mewah, tetapi bagi si penghuni terasa sempit dan pengap. Celakanya, bukan cuma rumahnya yang terasa sempit, melainkan juga dunia dirasa kecil. Mereka hidup dalam ketakutan dan selalu merasa tidak nyaman berada di rumah. Tidak ada ruangan yang tidak ber-AC, tetapi semua sudut tetap terasa panas. Dan, tidak ada ruangan yang tidak berlampu, tetapi tetap saja terasa gelap. Tidak ada kesejukan, kedamaian, dan kenyamanan di dalamnya.
Apa yang menyebabkan rumah jadi seperti kuburan? Sebenarnya, bukan rumahnya yang seperti kuburan, melainkan suasana batin atau suasana hati yang membuat segalanya jadi tidak menyenangkan. Seorang teman pernah iseng-iseng bertanya kepada seorang pembantu sebuah rumah di kawasan elite Jakarta, "Mbok, tuan ke mana?"

"Wah, tuan saya mah 'ndak betah di rumah. Pulangnya sebulan sekali!"
"Lho, jadi rumah ini siapa yang nempatin?"
"Saya sama suami," jawab si Mbok dengan wajah berbinar.
"Asyik dong kalo gitu?"
"Ya asyiklah, Mas...wong tiap hari bulan madu kok...," jawabnya jujur.

Ternyata, si Tuan yang pulang sebulan sekali itu juga tidak bisa berlama-lama tinggal di rumahnya yang mewah itu. Paling satu atau dua hari. Selain itu, dia pergi lagi. Si pembantu menceritakan, Tuannya selalu kelihatan tegang, tidak rileks, tidak bahagia, dan selalu tampak ketakutan. Bagi si tuan, rumahnya yang besar dan mewah itu laksana kuburan. Sempit dan menakutkan. Si Mbok tidak tahu---dan dia memang tidak mau tahu---apa yang membuat tuannya begitu.

Betapa mewah dam luasnya rumah yang kita miliki, tetapi kalau hati kita sempit, semuanya tampak sempit dan tidak menyenangkan. Hati yang sempit membuat dunia, sekali lagi, terasa sangat kecil dan sumpek. Bandingkan dengan si Mbak. Kendati tidak memiliki rumah mewah itu, dia bisa menikmatinya (bahkan bisa honeymoon setiap hari, hehehehe....). Si Mbok adalah orang yang merdeka. Hatinya luas, lebih luas daripada dunia ini. Dia memang pembantu, tetapi dia lebih bebas daripada Tuan yang mengupahnya. Oleh karena itu, dia bisa enjoy dengan suaminya meskipun menumpang di rumah yang seharusnya menjadi surga bagi Tuannya.

Friday, January 7, 2011

Kisah Nasruddin dan Gayus: Mencari Keadilan, Urusannya Jadi Lain

Ceritanya Nasruddin jadi hakim. Seseorang datang kepadanya membawa berita.
"Ya Mullah, sapi Anda membunuh sapi saya!"
"Binatang mana tahu kalau membunuh itu sebuah kejahatan keji. Sapi maupun pemiliknya tidak bisa dikenai sanksi hukum," jawab Nasruddin.
"Eng...maaf, maksud saya, sapi saya membunuh sapi Anda," orang itu meralat.
"Oh...kalau itu soalnya, urusannya jadi lain. Aku harus membuka kitab pidana dulu," Nasruddin segera mencari rujukan.

Sama halnya Gayus, sebagai tersangka, dia masih bisa mengelak dari hakim dan penyidik karena bisa memenuhi kepentingan penyidik dan para hakim. Apalgi para penjaga penjara, dengan sangat mudah bisa dikuasai Gayus. Ada apa dengan semua ini? Kenapa bisa demikian?

Begitulah....kita seringkali menyelesaikan perkara berdasarkan kepentingan dan keuntungan kita.

Kita, diam-diam, tidak menghendaki sebuah perkara diputuskan dengan adil. Artinya, semua pihak sama-sama merasa puas karena mendapatkan haknya menurut "hukum", bukan menurut "pandangan" ahli hukum. Sebab, pandangan bisa menipu, dan ahli hukum bukan seorang yang steril dari kesalahan.

"Adil" dalam konteks hukum adalah 'memberikan sesuatu kepada orang yang memang berhak mendapatkannya'. Di pihak kita, seringkali kita memahaminya harus menguntungkan. Padahal persoalannya bukan untung atau tidak untung. Persoalannya adalah apakah kita mendapatkan hak sesuai porsi kita, dan orang yang berperkara dengan kita juga mendapatkan hak sesuai dengan porsinya.

Nasruddin, sebagai hakim, hanya mementingkan dirinya sendiri. Ketika orang mengabarkan sebuah kejadian yang "akan merugikannya", dia mengelak dengan dalil-dalil yang rasional. Namun, ketika ternyata orang mengabarkan kejadian yang "benar-benar merugikannya", Nasruddin segera mencari pasal-pasal normatif dalam kitab undang-undang hukum positif agar bisa memenangkannya.

Kejadian yang "akan merugikan" Nasruddin adalah kemungkinan orang yang datang mengabarkan bahwa sapi Nasruddin membunuh sapinya sehingga akan menuntut ganti rugi. Namun, Nasruddin cerdik; dia mengelak dengan mengatakan bahwa sapi, tentu saja, tidak mengetahui bahwa membunuh itu sebuah kejahatan yang keji. Oleh karena itu, baik sapi maupun si pemilik sapi tidak bisa dihukum meskipun ada saksi yang melihat kejadian itu. Argumen ini sangat masuk akal. Nasruddin menggunakan "celah" hukum yang bisa memperkuat pendapatnya. Jadi, zonder merujuk pada kitab hukum, perkara bisa diselesaikan dengan gampang.

Nah, kejadian "yang benar-benar merugikan" Nasruddin adalah ternyata sapinyalah yang dibunuh oleh sapi orang. Karena merasa dirugikan, mengandalkan rasionalitas saja tidaklah cukup. Dia harus mencari pembenaran dalam kitab hukum, dan di benaknya sudah ada keputusan sebelum perkara digelar dipengadilan. Pokoknya, si pemilik sapi itu harus dikenai sanksi hukum atau mengganti kerugian yang dia alami.

Wednesday, December 29, 2010

Mau Jadi Suami yang Baik?: Bertengkarlah dengan Istrimu!

Ada cerita menarik tentang salah seorang Khalifah Rasul yang dikenal keras, jujur, alim, dan adil, 'Umar bin Khatab r.a. Suatu ketika, Khalifah 'Umar didatangi seorang warganta. Warga itu mengadu bahwa istrinya bertabiat kasar, tidak hormat kepada suami, dan ngomel melulu. Khalifah 'Umar membawa orang itu keluar lalu mengajaknya bersalaman seraya berkata, "Kita senasib...".
Jadi, jika seorang seperti Khalifah "Umar bin Khatab r.a. saja, yang konon sangat ditakuti setan, menerima perlakuan "tidak menyenangkan" dari istrinya, apalagi kita, atau seperti Nasruddin, seperti kisah berikut.

Nasruddin bertengkar dengan istrinya suatu malam. Rupanya, dalam perang mulut itu, dia kalah dan di usir oleh sang istri. Terpaksalah dia tidur di atap loteng rumahnya. Ketika bangun, esoknya, dia masih menyangka tidur di kamarnya, dia berjalan dan....gedebuk!!! bruk!!!. Nasruddin jatuh dan menimpa seorang tetangganyayang kebetulan lewat di bawahnya. Tetangga itu terkejut.

"Hai Nasruddin! Apa-apaan kau ini?" dia tampak marah.
"Kalau mau tahu jawabannya, bertengkarlah dengan istrimu!" jawab Nasruddin kalem sambil ngeloyor.

Nasruddin betapapun cerdiknya, dia tetap laki-laki yang mempunyai kekurangan dan keterbatasan. Salah satu kekurangannya adalah dia takut kepada istrinya. Konon, Nasruddin kawin karena dipaksa dan terpaksa. Dia menikah dengan wanita yang jelek rupa dan tabiatnya, yang sama sekali tidak menyenangkan hatinya. Sehingga, setiap hari selalu saja terjadi pertengkaran.

Acap kali laki-laki selalu menjadi pihak yang kalah dalam hal berebut omong dengan perempuan. Satu kalimat yang keluar dari mulut laki-laki disambut oleh puluhan kalimat dari mulut perempuan dalam sebuah pertengkaran. Dan, memang laki-laki tidak pantas meladeni perempuan yang ngomel dengan omelan juga. Baiknya, dia mengalah, diam, atau pergi.

Cerita di atas tidak bermaksud meremehkan apalagi merendahkan martabat perempuan. Yang ingin dikatakan cerita ini adalah pertengkaran suami-istri merupakan hal yang wajar sepanjang tidak saling menyakiti dan mencederai badan, juga tidak menggunakan kata-kata yang melukai hati. Pertengkaran suami-istri juga bisa dialami siapa saja: Nasruddin, 'Umar bin Khatab r.a., bahkan Rasulullah SAW. sendiri yang pernah dibuat masygul oleh istri-istri beliau.

Pertengkaran suami-istri itu manusiawi sekali dan bukan aib. Namun, ini bukan berarti setiap perjalanan berumah tangga harus ada bertengkarnya. Sepanjang pertengkaran itu bisa dihindari, ya harus dihindari. Dengan demikian, suami-istri tidak boleh mencari-cari masalah agar bisa bertengkar. Sebab, pertengkaran tidak baik dalam rumah tangga.

Memang, ada yang bilang pertengkaran suami-istri laksana bumbu penyedap berumah tangga. Namun, saya kurang begitu setuju dengan pendapat ini. Alasannya, bertengkar itu nggak ada enaknya. Kalau bumbu ada enaknya. Makanya, dibilang penyedap rasa. Nah, kalau bertengkar? Dimana enaknya? Sejujurnya, saya belum bisa menemukan atau merasakan enaknya bertengkar, yang saya rasa cuma dongkol and naje.

Apa pendapat Anda? silahkan komen di bawah potingan ini. Terima kasih.

Tuesday, November 9, 2010

PAHLAWAN TAK DIKENAL

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda


Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda

Oleh: Toto Sudarto Bachtiar

Monday, November 1, 2010

Antara Mbah Maridjan, Mentawai , Anggota Dewan dan Study Banding

Mbah Maridjan telah tiada. Jazadnya ditemukan dalam keadaan bersujud di kamar pribadinya. Mbah Maridjan, menurut Raja Keratton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengkubuwono X, adalah merupakan sosok yang baik dan sangat bertanggung jawab. Menteri Agama Suryadharma Ali menilai bahwa Mbah Maridjan memberikan inspirasi dan keteladanan bagi segenap pemimpin dan anak bangsa. Selain pujian dari Sri Sultan dan Menteri Agama, berbagai kalangan pun memberikan apresiasi atas keberanian dan konsistensi Mbah Maridjan dalam menjalankan tugas sebagai juru kunci Gunung Merapi.

Dilain pihak, untuk memantapkan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Rumah Susun, sebanyak 16 anggota Komisi V DPR diam-diam pada Selasa (26/10/2010) telah berangkat ke Italia untuk melakukan study banding tentang pengelolaan rumah susun. Mereka tidak menyampaikan rencana keberangkatan ke publik seperti yang sudah digariskan pimpinan dewan. Para wakil rakyat tersebut pergi di tengah-tengah bencana Gunung Merapi dan Kepulauan Mentawai. Sikap mereka jelas tidak lagi peduli dengan musibah yang menimpa rakyat. Yang lebih menyedihkan lagi ungkapan salah seorang wakil rakyat bahwa musibah tersebut adalah resiko yang harus ditanggung rakyat. Sungguh suatu pernyataan yang menurut pakar komunikasi politik, Yunarto Wijaya, adalah bentuk ketidak empatian dan simpatik lagi para tokoh politik terhadap penderitaan rakyat.

Anggaran yang dihabiskan untuk kegiatan study banding anggota dewan jumlahnya tidak tanggung-tanggung, hampir Rp. 19 trilyun. Suatu angka yang sangat jauh melebihi daripada anggaran yang dialokasikan untuk penanggulangan bencana.

Keberanian dan konsistensi Mbah Maridjan yang polos dan lugu dan hanya bergaji Rp. 5.00, sepertinya lebih layak dan pantas untuk dihargai dan dihormati dari pada para anggota DPR yang nota bene orang berpendidikan tinggi dan bergaji tinggi, yang lebih suka jalan-jalan dengan kemasan study banding yang hanya memboroskan uang negara.

Bagaimana menurut Anda? Silahkan sampaikan komentar Anda di bawah postingan ini.

Thursday, September 30, 2010

Abu Hafshin Al-Haddad: Taubatnya Si Pemabuk Asmara

Abu Hafshin Al-Haddad adalah seorang pandai besi. Ketika masih remaja, Abu Hafshin jatuh cinta kepada seorang gadis pelayan. Ia demikian tergila-gila sehingga tak dapat hidup dengan tenang.
Melihat keadaan itu sahabat-sahabatnya memberi saran, "Ada seorang dukun Yahudi yang tinggal di pinggiran kota Nishapur. Ia tentu dapat menolongmu".

Maka pergilah Abu Hafshin ke dukun Yahudi itu dan menerangkan kasus yang dihadapinya.
Si Yahudi menerangkan kasus yang dihadapinya.
Si Yahudi menyarankan, "Selama empat puluh hari janganlah engkau shalat, dengan cara bagaimanapun janganlah engkau patuhi perintah Allah, dan jangan lakukan perbuatan-perbuatan baik. Selama itu pula jangan engkau sebut-sebut nama Allah dan sama sekali jangan memikirkan hal-hal yang baik. Setelah semua ini kau lakukan, barulah aku sanggup dengan sihirku membuat kehendakmu tercapai'.

Selama empat puluh hari ia melaksanakan nasehat si dukun Yahudi.Setelah itu si dukun Yahudi membuatkan sebuah jimat untuknya. Tetapi selama itu tak membuahkan hasil.

Ketika dia menemui si dukun, Yahudi itu berkata, "Sudah pasti bahwa selama ini kau pernah melakukan perbuatan baik, jika tidak, tentu tujuanmu telah tercapai".

"Tak ada pelanggaran yang aku lakukan," kata Abu Hafshin membela diri. "Satu-satunya kebajikan yang kulakukan adalah menyepak sebuah batu ketika aku datang kemari agar tidak ada orang yang tersandung karenya".

Si Yahudi mencela, "Janganlah menjengkelkan Allah yang perintah-perintah-Nya hendak engkau tentang selama empat puluh hari. Dia takkan menyia-nyiakan kemurahan-Nya walau untuk kebajikan kecil seperti yang telah engkau lakukan".

Kata-kata itu mengobarkan api di dalam dada Abu Hafshin. Demikian dahsyatnya api itu berkobar sehingga Abu Hafshin bertaubat melalui si Yahudi itu.

Abu Hafshin meneruskan usahanya sebagai pandai besi. Ia menyembunyikan keajaiban-keajaiban yang telah terjadi pada dirinya. Setiap hari ia memperoleh satu dinar. Dan setiap malam pula uang satu dinar itu diberikannya kepada orang-orang miskin. Atau secara sembunyi diletakkannya pada kotak surat para janda. Kemudian ketika waktu Isya' telah tiba, ia pun pergi mengemis dan dengan uang yang diperolehnya melalui cara ini ia berbuka puasa. Kadang ia mengumpulkan bawang atau lainnya sisa-sisa yang terdapat di kamar cuci umum lalu dicuci dan dijadikan santapannya.

Demikianlah perilaku Abu Hafshin untuk beberapa lama. Pada suatu hari seorang buta berjalan di dalam pasar sambil membaca ayat, "Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Maka akan ditunjukkan Allah kepada mereka yang tak pernah mereka sangka sebelumnya..."

Ayat ini menyesakkan dada Abu Hafshin sehingga ia tak sadarkan diri. Pada suatu ketika disaat ia dibengkel pandai besinya, sebagai ganti jepitan ia masukkan tangannya ke dalam tungku perapian untuk mengambil sepotong besi yang sedang panas membara. Besi itu ia taroh di atas paron untuk dipalu anak buahnya. Semua anak buah Abu Hafshin terkejut, betapa Abu Hafshin menempa besi panas itu dengan tangannya sendiri, sama sekali tak mempergunakan jepitan besi.

"Tuan, apakah yang engkau perbuat ini?" tanya anak buahnya.
"Cepat palu!" perintah Abu Hafshin.
"Tuan, apakah yang harus kami palu?" tanya mereka keheranan. "Besi ini telah bersih."

Barulah Abu Hafshin sadar. Dilihatnya besi yang membara ditangannya dan didengarnya seruan-seruan anak buahnya, "Besi itu telah bersih. Apakah yang harus kami palu?"

Sontak besi itu dilemparkannya. Bengkel itu ditinggalkannya dan siapapun boleh mengurusnya.

"Sudah lama aku sebenarnya ingin meninggalkan usaha ini, tapi tak bisa. Akhirnya kejadian ini menimpa diriku dan secara paksa membebaskanku. Betapapuna aku mencoba meninggalkan usaha itu, namun sia-sia, akhirnya usaha itu sendiri yang meninggalkanku".

Sesudah itu, Abu Hafshin menjalani kehidupan dengan disiplin diri yang keras. Menyepi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sunday, June 13, 2010

Mengejar Suara

Nasruddin diminta mengumandangkan adzan di masjid pada suatu siang. Maka, naiklah dia ke menara masjid. Saat itu, para muazin biasa mengumandangkan azan dari atas menara mesjid.
Ketika baru saja Nasruddin berteriak, "Allahu Akbar!Allahu Akbar!," dia terburu-buru turun dari menara dan berlari ke sana kemari. Tentu saja orang-orang yang sudah bersiap-siap melaksanakan shalat terbengong-bengong. Salah seorang dari mereka bertanya, "Hai Mullah, mengapa engkau berlari-lari sebelum menyelesaikan azanmu?"
Aku mau tahu, apakah suaraku terdengar ke seluruh penjuru," jawab Nasruddin.


Cerita naif di atas makin mengukuhkan posisi puncak Nasraddin di jagat orang-orang "tolol". Ketololan memang bisa terjadi pada semua orang dan dimana saja. Bisa di masjid atau di pasar, di tempat tidur, di kolam renang, di kuburan, dan di lain-lain tempat. Tidak peduli pelaku ketololan itu tokoh terhormat seperti tokoh agama atau pejabat negara, guru atau tentara, anak-anak atau orang dewasa, pria atau wanita. Lalu, apa yang bisa dipetik dari kisah konyol di atas?

Azan adalah panggilan terhormat bagi kaum Muslim untuk mengerjakan shalat lima waktu. Azan adalah undangan Allah kepada hamba-hamba-Nya untuk beraudensi dengan-Nya. Orang-orang Islam yang mempunyai kehormatan diri akan sangat gembira jika diajak mikraj ruhani ke hadirat Allah lewat shalat. Sebab,shalat adalah lambang kecintaan dan penghormatan diri Allah kepada hamba-Nya. Oleh karena itu, perintah shalat diterima langsung dari Allah oleh Nabi Muhammad Saw. di Sidratul Muntaha saat beliau mi'raj, tidak melalui Malaikat Jibril a.s.
Nah, Nasruddin merasa dialah "corong" Allah. Dialah "mulut" Allah yang menyampaikan undangan kehormatan. Padahal, tidak mungkin seorang raja mengundang orang-orang yang dihormatinya lewat mulut seorang preman jalanan. Tentu, yang dipilih adalah orang-orang yang masuk kualifikasi baik, terhormat, dan bersih.
Namun, kadang walaupun baru sedikit saja kita menyeru manusia ke jalan Allah atau kebajikan, kita sudah merasa pantas dibicarakan laksana nabi. Kita pasang telinga di seluruh penjuru mata angin untuk mengetahui sejauh mana seruan kita didengar orang. Belum sempurna benar seruan kita kumandangkan, kita sudah ingin tahu apakah "suara" kita terdengar di mana-mana. Oleh karena itu, kita cepat-cepat "turun dari menara". Kita biarkan jamaah yang sudah ada di dalam masjid terbengong-bengong melihat tingkah kita. Dan, kita tidak peduli. Kita tetap ingin tahu sampai sejauh mana orang mendengar seruan kita.
Sesunguhnya "turun dari menara" menunjukkan ketidakikhlasan di samping juga ketergesaan. Dari posisi tinggi, di atas menara sambil meneriakkan azan, kita turun berlari-lari dan mencari tahu apakah banyak orang yang mendengar teriakan kita. Nasruddin menyindir kita, bahwa kalau azan tidak perlu mencari tahu apakah banyak yang dengar atau tidak. Azan saja, hasilnya biarkan angin membawa suara kita ke mana ia mau. Tidak peduli ada yang mendengar atau tidak.

Tuesday, April 27, 2010

Ini Tanganku, Ambillah!

Suatu hari, Nasruddin pergi tamasya bersama beberapa rekannya. Salah seorang temannya itu adalah seorang yang dikenal sangat bakhil, pelit. Tiba di tepi sebuah sungai yang arusnya deras dan tanpa jembatan, mereka harus menyeberang dengan berbasah-basah. Saat si bakhil menyeberang, dia tergelincir batu licin yang dia injak. Akibatnya fatal. Si bakhil terbawa arus dan celakanya dia juga tidak bisa berenang.

Teman-temannya berusaha menolong. "Berikan tanganmu! Aku akan menolongmu!"
Tetapi si bakhil tetap tidak mau memberikan tangannya. Dia timbul tenggelam terbawa arus sungai yang deras. Teman-temannya terus berusaha menyelamatkannya.
"Ayo sini! Berikan tanganmu, cepat!"
Si bakhil tetap tidak mau. Nasruddin merasa ada yang salah pada kalimat teman-temannya. Maka, dia turun tangan.
"Ini tanganku, ambillah! Kau akan kuselamatkan!"
Tanpa buang tempo lagi, si bakhil langsung mengambil tangan Nasruddin yang segera mengangkatnya ke tepi sungai.

Monday, April 26, 2010

Kisah Abu Hafshin Al-Hadad: Hati Trenyuh di Kota Mekkah

Ketika sampai di Kota Mekkah, Abu Hafshin menyaksikan jama'ah-jama'ah yang miskin dan terlunta-lunta. Ia ingin sekali memberikan sesuatu kepada mereka. Tetapi tak ada yang dimilikinya. Oleh karena itu hatinya gelisah, ia tidak biasa membiarkan orang menderita. Kegelisahan ini demikian mencekam hatinya dan ia tak sanggup lagi menahannya.

Akhirnya ia berteriak:
"Demi keagungan-Mu, jika Engkau tidak memberikan sesuatu kepadaku, akan kuhancurkan semua lampu-lampu di dalam masjid."

Kemudian ia mengelilingi Ka'bah. Tak lama kemudian datanglah seorang lelaki menghampiri dan memberinya sekantong emas yang kemudian dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin dan terlunta-lunta.
bisnis paling gratis

Top Comments