Showing posts with label Islamic Articles. Show all posts
Showing posts with label Islamic Articles. Show all posts

Wednesday, January 11, 2012

Karena Anjing

Ketika Rasulullah duduk-duduk bersama Anas bin Malik, tiba-tiba datanglah seorang lelaki sambil mengaduh karena betisnya berlumuran darah.
"Apa yang terjadi atas dirimu?" tanya Rasulullah."Mengapa sampai bisa begini?"
"Ya Rasulullah, ketika aku sedang enak-enak berjalan tiba-tiba berpapasan dengan anjing milik Fulan. Anjing itu kemudian menggigit betis saya," kata lelaki itu.

Dan baru saja lelaki yang mengadu itu duduk di dekat Rasulullah, datang sahabat lain. Dia juga mengalami nasib yang sama, kedua betisnya berlumuran darah digigit anjing itu juga.
Melihat kejadian tersebut, Rasulullah bangkit dan mengajak para sahabat untuk mencari anjing yang menggigit itu untuk dibunuh.

Dan begitu anjing itu ditemukan, salah seorang sahabat Nabi mengayunkan pedangnya ke arah tubuh ajning itu, tetapi tiba-tiba hewan itu mendekati Rasulullah dan berkata dengan lafal yang fasih.
"Jangan kau bunuh aku, karena aku yang beriman kepada Allah juga kepadamu, ya Rasulullah," ujar hewan itu.
"Tetapi mengapa kaw menggigit betis kedua sahabatku itu?" tanya Rasulullah.
"Aku memang ditugaskan untuk menggigit orang yang mencaci maki Abu Bakar dan Umar," jawab anjing itu.

Mendengar jawaban itu, Rasulullah ganti bertanya kepada kedua lelaki yang digigit hewan itu.
"Kalian berdua mendengar apa yang dikatakan anjing itu. Benarkah apa yang dikatakannya?" tanya Rasulullah.

Kedua lelaki itu merasa malu atas apa yang telah dilakukannya, dan tanpa bisa mengelak lagi kedua lelaki itu menjawab:
"Benar Rasulullah. Kini kami bertaubat kepada Allah dan kepadamu sebagai Rasul-Nya."

Friday, August 5, 2011

TIPE-TIPE MANUSIA DALAM MENGABDI KEPADA TUHAN

Bismillaahirrahmaanirrahiim Menurut sebagian pakar , terdapat Tiga Tipe manusia dalam beribadah (taat melaksanakan perintah-NYA) . Ketiga Tipe ini sama-sama “ Lillahi taala” , hanya “Penghayatannya “ yang berbeda. Inilah yang membedakan kualitasnya. Tipe pertama , adalah Tipe “Pedagang” , yaitu melakukan sesuatu demi memperoleh imbalan yang menyenangkan. Termasuk dalam kategori ini adalah orang yang taat kepada Allah karena mengharapkan diakhirat kelak akan dimasukkan kesurga. 
Tipe kedua adalah tipe “ Budak” yang takut pada majikannya. Ia taat kepada Allah karena dorongan takut siksa neraka. Tipe Ketiga , adalah Tipe “orang Arif” yaitu orang yang beribadah bukan karena mengharapkan imbalan surgawi dan juga bukan karena takut neraka, melainkan sebagai “Balas Jasa” karena menyadari betapa besar anugerah Allah yang telah diterimanya. Ia tidak berani membangkang kepada Allah semata-mata karena rasa malu bahwa Tuhannya telah memberikan yang terbaik untuknya. Tidaklah pantas baginya membangkang pada perintah Allah yang telah memberinya anugerah yang tidak dapat dihitung banyaknya. Dengan demikian segala tindakannya semata-mata karena tidak ingin Tuhan ‘kecewa’ kepadanya.

Sunday, February 20, 2011

Inilah Doktrin Sesat Kitab Suci Ahmadiyah

Beginilah isi Doktrin Sesat Kitab Suci Ahmadiyah, Jemaat Ahmadiyah memiliki kitab suci bernama Tadzkirah. Buku ini berisi mimpi-mimpi dan khayalan Mirza Ghulam Ahmad yang dicatat dan dikumpulkan menjadi buku.

Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah telah mengkaji buku ini dan sepakat menyimpulkan bahwa Ahmadiyah adalah organisasi sesat dan menyesatkan.

Umat Islam Indonesia melakukan penyerangan terhadap komunitas Ahmadiyah di beberapa wilayah dikarenakan fatwa MUI tersebut. Namun tak banyak dari mereka mengetahui apa saja bukti kesesatan Ahmadiyah selain pengakuan memiliki Nabi baru yaitu Mirza Ghulam Ahmad.

Berikut ini adalah beberapa isi Tadzkirah, kitab suci Ahmadiyah yang menunjukkan ajaran kesesatan sebagaimana dikutip dari berbagai sumber.

1. Ahmadiyah menghina Allah, dengann mengaku sebagai anak Allah: "Engkau (Mirza Ghulam Ahmad) di sisi-Ku seperti kedudukan anak-anak-Ku, Engkau dari Aku dan Aku dari Engkau." (Tadzkirah hal 436).

2. Mirza Ghulam Ahmad meyakini menyatu dengan Allah: "Maka Aku melihat bahwa roh-Nya meliputiku dan bersemayam (berada) di badanku dan mengurungku dalam lingkungan keberadaan-Nya, sehingga tidak tersisa dariku satu (atom) pun. Dan aku melihat badanku, ternyata anggota badan-Nya Allah, dan mata-Nya adalah matanya Allah, & lidahnya adalah lidah-Nya pula." (Tadzkirah hal 196).

3. Mirza Ghulam Ahmad mengaku sederajat dgn ke-Esa-an Allah: "Wahai Ahmad-Ku, Engkau adalah tujuan-Ku, kedudukan-Mu di sisi-Ku sederajat dengan ke-Maha-Esaan-Ku, Engkau terhormat pada pandangan-Ku." (Tadzkirah, hal 579)

4. Mirza Ghulam Ahmad mengaku lebih sempurna dari Allah: "Nama Mirza Ghulam Ahmad sangat sempurna, sedang nama Allah tidak sempurna

5. Ahmadiyah mengkafirkan umat Islam yang bukan non-Ahmadiyah: "Bahwa Allah telah memberi kabar kepadanya, sesungguhnya orang yang tidak mengikutimu dan tidak berbaiat padamu dan tetap menentang kepadamu, dia itu adalah orang yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya dan termasuk penghuni Neraka jahim”. (Tadzkirah, hal 342).

6. Jemaat Ahmadiyah tak boleh salat dengan non-Ahmadiyah: "Sesungguhnya Allah telah menjelaskan padaku, bahwa setiap orang yang telah sampai padanya dakwahku kemudian dia tidak menerimaku, maka dia bukanlah seorang Muslim dan berhak mendapatkan siksa Allah." (Tadzkirah, hal 600).

7. Ahmadiyah mengklaim Tadzkirah sebagai kitab suci yang paling benar: "Sesungghuhnya kami telah menurunkan kitab suci Tadzkirah ini dekat dengan Qadhian (India). Dan dengan kebenaran kami menurunkannya dan dengan kebenaran dia turun." (Tadzkirah, hal 637).

8. Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai Rasulullah: "Dan katakanlah, Hai manusia sesungguhnya saya rasul Allah kepada kamu sekalian."

Isi Doktrin di atas belum di tulis sepenuhnya di sini. Dan ini hanya sebagian kecil saja.... Semoga ini bisa membuka mata hati kita untuk membdakan mana yang benar dan salah.

sumber : romeo blog

Wednesday, December 29, 2010

Khutbah Jum'at: MENYAMBUT DATANGNYA TAHUN BARU MILADIYAH 1 JANUARI 2011

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah!
Marilah kita selalu bertaqwa kepada Allah SWT, baik di dalam keadaan sepi maupun di dala keadaan ramai. Jangan hanya di dalam keadaan ramai saja kita bertaqwa. Sebab taqwa seperti ini berarti tidak murni karena Allah. Begitu pula janganlah hanya bertaqwa di dalam keadaan sepi saja., sebab dalam keadaan ramai justru kita dituntut untuk bertaqwa. Maka sesungguhnya bertaqwa kepada Allah itu merupakan penjagaan dan benteng dari kemurkaan Allah Ta’ala.
Sidang Jum’ah yang berbahagia.
Sebentar lagi bulan Januari akan datang kepada kita. Yaitu bulan dimana permulaan tahun baru Miladiyah akan dimulai. Artinya kita akan sampai kepada tahun baru lagi, yaitu tahun 2011 yang harus dihadapi dengan hati-hati seraya berpedoman dengan pengalaman-pengalaman pada tahun lampau. Segala amal perbuatan tahun lalu yangtidak patut hendaknya dijauhi dan dihindari. Selanjutnya bersiap-siap memulai babak baru yang harus bisa diwarnai dengan perilaku yang baik serta terpuji dan menguntungkan. Itulah langkah kita didalam setiap memasuki tahun baru. Mengadakan intropeksi diri pada diri kita sendiri serta mengevaluasi semua perbuatan tahun lampau untuk diperbaiki pada tahun berikutnya. Sehingga dengan demikian semakin tua umur kita semakin baik dan sempurna amal kita. Begitulah tujuan hidup dari tahun ke tahun, diberi umur panjang dengan disertai amal yang baik.

Di dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Shafwan dan diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Rasulullah saw telah bersabda :
Artinya :
Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan bagus amalnya. (HR.Tirmidzi).

Sidang Jum’ah yang berbahagia!
Tetapi sebahagian besar orang yang menyambut datangnya tahun baru malah digunakan sebagai kesempatan untuk maksiat sepuas-puasnya. Di hotel-hotel, gedung-gedung pertemuan atau ditempat-tempat ramai lainnya diselenggarakan bermacam-macam acara yang berbau dengan kemaksiatan. Dansa-dansa, mabuk-mabukkan, berjoget, dan main dero semalam suntuk adalah hal yang biasa dilakukan setiap menyambut tahun baru masehi. Semua itu adalah keliru, bahkan sangat-sangatlah keliru dan sesat. Karena kebiasaan-kebiasaan seperti diterangkan di atas adalah perilaku orang-orang Nasrani, orang-orang Kristen, orang-orang yang kafir, orang-orang yang hanya haus kemewahan dunia tanpa mengingat kehidupan di akhirat. Mereka telah berbuat dosa sementara mereka telah diberi kenikmatan berupa tambahnya umur sehingga bisa mengenyam kehidupan di tahun baru. Semestinya mereka bersyukur, bukannya berbuat seperti orang kufur.
Ingatlah, wahai kaum muslimin akan ancaman Allah terhadap orang-orang yang berbuat dosa, apalagi sampai mengingkari kenikmatannya. Allah telah berfirman :

Artinya :
Dan tinggalkan dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang-orang yang melakukan dosa, kelak akan diberi pembalsan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan. (Al An’am:120)
Dan Allah juga mengancam kepada orang-orang yangtidak tahu mensyukuri nikmaynya, bahkan mengingkarinya. Allah telah berfirman :

Artinya :
Jika engkau bersyukur, niscaya Aku tambahkan bagimu kenikmatan. Dan jika engkau ingkar, ingtlah siksa-Ku amatlah pedih. (Ibrahin:7)

Sidang Jum’ah yang berbahagia!
Lalu bagaimanakah tindakan kita memasuki tahun baru nanti? Sebagai orang muslim yang bukan hanya mementingkan kehidupan dunia saja, tapi juga kehidupan akhirat, maka tindakan kita di dalam memasuki tahun baru ialah :

1. Bercermin pada kehidupan yang baru saja kita lalui di tahun sebelumnya. Jika ternyata pada tahun sebelum ini kita banyak berbuat kesalahan maka tahun mendatang kita harus mengubah sikap untuk berbuat kebajikan-kebajikan sebanyak-banyaknya. Tersebut dalam sebuah hadits riwayat Tirmidzi, Rasulullah saw telah bersabda :

Artinya :
Bertaqwalah kamu kepada Allah dimana kamu berada, dan ikutilah perbuatan jahat dengan kebaikan, maka kebaikan itu akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan budi pekerti yang baik.

2. Bilamana dalam masalah keduniaan pada sebelumnya kita mengalami kemunduran, maka carilah sebab kemunduran itu. Lalu cari cara baru yang sekiranya dapat mendatangkan kemajuan. Janganlah kemunduran pada tahun sebelumnya membuat putus asa. Sebab putus asa di dalam mengharap rahmat Allah dan pertolongan Allah dilarang dalam Islam. Allah berfirman :

Artinya :
Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidaklah berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir. (Yusuf : 87)

3. Memperbanyak rasa syukur kepada Allah bilamana di dalam tahun yang baru dilalui itu memperoleh banyak kemajuan, baik dalam masalah duniawi maupun ukhrawi. Janganlah apa yang dicapainya selama ini lalu membuat lupa daratan, sehingga dalam tahun berikutnya lalu berlaku sombong, atau membangga-banggakan apa yang telah dicapainya selama ini. Ingat Qarun yang telah dilaknat Allah karena berlaku sombong berkat keberhasilannya didalam perniagaannya yang membawa dirinya semakin kaya. Padahal sebenarnya apa yang telah dicapainya itu semata adalah anugerah Allah.
Perhatikan firman Allah :
Artinya :
Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (Al Maidah : 6)

Sidang Jum’ah yang berbahagia.
Dari semua uraian diatas, maka tahulah kita bagaimana seharusnya tindakan setiap muslim didalam memasuki tahun baru. Kita tidak perlu meniru orang kafir yang berfoya-foya didalam menyambut datangnya tahun baru. Datangnya tahun baru bagi kita akan mengisi lembaran-lembaran hidup baru yang telah dibentangkan oleh Allah dihadapan kita. Maka kita harus berhati-hati, jangan sampai lembaran-lembaran itu lalu kita nodai dengan amal perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dan selera manusia yang berbudaya serta berkendak luhuir.
Oleh sebab itu mulai sekarang kita harus merubah sikap didalam menyongsong datangnya tahun baru. Kita ingatkan mereka yang biasa menyongsong tahun baru dengan berpesta, berfoya-foya semalam suntuk. Semua itu adalah tindakan yang keliru. Sebaliknya di saat-saat permulaan memasuki tahun abru kita warnai dengan amal shaleh, meningkatkan ketaqwaan kepada Allah dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Dengan demikian, maka Allah pasti melindungnya di dalam kehidupannya sehari-hari sehingga kehidupannya mengandung berkah.
Akhirnya marilah kita panjatkan do’a kepada Allah semoga amal perbuatan kita yang telah lalu berupa kebajikan diterima oleh-Nya sebagai amal shaleh yang dapat kita petik kelak di akherat, dan semua kesalahan atau dosa yang telah kita perbuat selama itu diampuni-Nya. Begitu pula semoga langkah kita selanjutnya di dalam memasuki tahun baru mendapat petunjuk dan taufik-Nya. Amin ya Rabbal Alamin.

Friday, December 17, 2010

Penantian Haru: Selamat Datang Jama'ah Haji Indonesia

Sudah hampir seluruh jama'ah haji Indonesia sudah tiba kembali di Tanah Air, setelah hampir empat puluh hari meninggalkan rumah. Rasa lelah dan gelisah yang dirasakan selama menunggu di bandara seakan tidak terasa lagi.

Ketika pesawat mulai bergerak,semua pandangan jama'ah tampak tertuju ke arah luar. Seakan terbaca dalam pikirannya sedang mengucapkan selamat tinggal kepada kota suci. Tersembunyi pula sebuah harapan untuk kembali lagi.

Makin tinggi pesawat ke angkasa biru, makin sunyi pula suasananya. Makan dan minum segera disajikan kepada jama'ah. Setelah itu, mereka satu persatu mulai tertidur pulas. Kamar kecil pesawat yang ketika berangkat sangat padat dengan antrean jama'ah, sekarang lengang. Hanya sesekali saja terlihat jama'ah yang menggunakannya. Suasana berubah menjadi sunyi.

Beberapa jam kemudian jama'ah bangun untuk menunaikan shalat. Saat itu tampak sebagian besar wajah jama'ah berbinar-binar membayangkan bertemu dengan keluarga, handai taulan, dan tetangga di rumah. Ada siratan rencana membagi oleh-oleh, membaca do'a, dan syukuran sesampainya di rumah. Hanya saja ada beberapa jama'ah yang tampak menerawang jauh dengan siratan sedih mendalam akibat suami, isteri atau keluarga tercinta telah meninggal dunia di tanah suci. Perasaan tampak campur aduk antara bayangan bahagia ketika berangkat berdua, dan kenyataan sekarang pulang sendirian. Berkali-kali air mata diseka sambil menoleh ke tempat duduk di sampingnya yang kosong, sebab pemiliknya telah terbaring di pusara di kota suci.

Pesawat mendarat perlahan-lahan di bandara tanah air, satu per satu jama'ah turun dari pesawat menuju bus yang telah siap mengangkutnya ke asrama embarkasi. Di sana tampak banyak orang telah berada di sekitar sambil melambai-lambaikan tangan.

Mereka yang berduka tentu berbeda dengan mereka yang bahagia. Hanya saja mereka semua sama-sama ingin melanjutkan perjalanan hidup dengan sebaik-baiknya. Ada hakekat yang sama pula, bahwa semuanya akan kembali kepada Allah ta'ala. Antara mereka yang kembali ke rumah dan mereka yang wafat di tanah suci, sebenarnya hanya persoalan giliran menunggu waktu yang telah ditentukan oleh Allah ta'ala.

Thursday, November 18, 2010

Ibadah Haji: Cara Bijak Mengejar Target

Setelah menunaikan ibadah haji, setiap orang berharap akan beribadah dengan baik di lingkingannya. Khatam Al-Qur'an satu kali, dua kali, bahkan ada yang lebih dari itu adalah salah satu target dalam menunaikan ibadah haji. Mereka yang belum lancar membaca Al-Qur'an, ada yang menargetkan tawaf sebanyak 10 kali, atau 30 kali, atau bahkan lebih. Ada juga yang menargetkan akan melakukan shalat tahajjud dan dhuha di samping Ka'bah selama sekian kali, membaca wirid tertentu sebanyak sekian kali dan lain-lain.

Semua itu dilakukan karena di dorong oleh (1) janji berlipat-gandanya pahala ibadah di Masjid Nabawi maupun di Masjidil Haram; (2) keinginan untuk meraih hajat tertentu; dan (3) waktu/kesempatan di tanah suci sangat terbatas, sementara impian sudah lama terpendam, sehingga seringkali terdengar alasan, 'mumpung di tanah suci'.


Olehnya itu, para jama'ah biasanya telah membuat rencana kegiatan yang berkenaan dengan target tersebut. Sayangnya, semangat ibadah yang sangat kuat seringkali menepikan hal-hal penting yang berkaitan dengan kesehatan. Misalnya, agar dapat shalat di dekat Ka'bah, maka jama'ah berangkat ke masjid pukul 03.00 tengah malam. Setelah shalat shubuh pukul 06.00 dilanjutkan dengan shalat dhuha dan ibadah-ibadah yang lain sampai dzhuhur. Ia pulang ke asrama pukul 15.00. Selama dua belas jam di masjid, ia membiarkan perut kosong. Apabila pola ibadah yang demikian itu sering dilakukan, tidak mustahil banyak di antara jama'ah haji yang jatuh sakit. Betapapun, beribadah dengan cara memaksa diri sampai mengabaikan kesehatan kurang dikehendaki oleh syari'at. Syeikh Az-Zarnuji (dalam Saerozi, 2004:130) menyatakan,

"Badanuka matituka farfiq"
(Badanmu adalah kenderaanmu, maka berbuatlah bijak terhadapnya).


Pola ibadah yang tidak mengindahkan kesehatan tersebut sebenarnya bisa dihindari dengan cara yang amat sederhana. Misalnya, jama'ah membawa bekal makanan sekedarnya di dalam masjid. Atau, jama'ah dapat membeli makanan di belakang marwa (tempat sa'i), yang sering disebut sebagai pasar seng (tapi saat ini pasar tersebut sudah dibongkar). Di situ tersedia warung masakan Indonesia. Disamping itu, jama'ah juga dapat melakukan rekreasi kecil yang tidak menyimpang dari tujuan ibadah. Rekreasi ini dapat dilakukan dengan berkelompok, di sela-sela kepenatan di masjid. Misalnya dengan melihat-lihat kain, kerudung, baju, souvenir, dan mainan anak-anak.

Bagi pecinta seni batu mulia, di pasar tersebut dapat pula memilih batu mulia terbaik. Para penjual batu mulia biasayany memakai pakaian ala Barat, bercelana dan berdasi, dan rata-rata mahir berbahasa Inggris.

Jika lorong tengah pasar seng disusuri, akan ditemukan Masjid Abu Ghurairah atau sering di sebut Masjid Kucing. Jika lorong jalan ini disusuri terus, akan ditemukan Masjid Jin. Beberapa meter dari Masjid Jin, terdapat makam Siti Khadijah yang terletak di kompleks pemakaman Ma'la. Jama'ah dapat melakukan ziarah di makam tersebut. Hanya saja jama'ah wanita tidak diperkenankan memasuki area makam. Mereka hanya dapat berziarah dari luar pagar bumi yang jaraknya agak jauh dari makam khusus Siti Khadijah dan putra-putra Rasulullah.

Saturday, September 4, 2010

"Membayar Zakat, Infak dan Sedekah: Pengeluaran Produktif?"

Ketika membayar zakat, berinfak dan sedekah terjadi pengurangan jumlah uang atau harta kita. Nah, kenapa dikatakan melakukan hal tersebut merupakan pengeluaran produktif?
Di dalam ekonomi Islam ada yang disebut meta-ekonomi (Azhari,AT:2008). Meta adalah sesuatu yang tidak tampak. Sesuatu yang berada dibalik lahir ekonomi itu sendiri. Meta-ekonomi Islam sendiri bersumber pada filsafat harta.

Dalam meta-ekonomi Islam ada lima prinsip yang berlaku. Pertama, harta yang yang kita miliki sesungguhnya milik Allah. Kita adalah pemegang amanah, orang yang diberi kepercayaan oleh Allah untuk memilikinya dan menikmatinya sesuai dengan kebutuhan kita. Kata sedekah yang berasal dari sidq (jujur) yang menunjukkan hanya orang yang jujur terhadap hartanyalah yang mau berinfak. Kedua, kita sesungguhnya bukan terminal dari harta kita. Sebaliknya, kita hanya tempat transit. Oleh sebab itu, jangan jadikan diri kita sebagai tempat terminal harta. Kita akan kesulitan sendiri dan akhirnya celaka. Ketiga, infak dan sedekah sesungguhnya adalah investasi bukan cost/biaya. Selama ini ada kecenderungan umat Islam untuk memahami bahwa infak dan sedekah adalah biaya (pengeluaran). Ayat suci menyebutkan bahwa apa yang Anda keluarkan akan dibalasi oleh Allah SWT. Keempat, harta memiliki sunatullah tersendiri. Ada yang masuk harus ada yang keluar. Jika sunatullah ini dilanggar, maka akan mencelakakan manusia itu sendiri. Pintu keluarnya telah disiapkan Allah lewat zakat, infak, dan sedekah. Jika pintu keluar ini tidak ditempuh, maka harta itu akan keluar sendiri dengan caranya sendiri pula.

Oleh sebab itu, jika kita mendapatkan musibah, mobil ditabrak orang, dompet hilang, rumah kemalingan, penyakitpun datang. Layak, dan pantas kita merenung. Bagaimana dengan infak dan sedekah kita. Jangan-jangan tidak ada atau masih sedikit. Lebih banyak pengeluaran kita untuk mengisi "WC" ketimbang tabungan akhirat. Wajar jika harta memberontak dan mencari jalan keluar sendiri.

Adapun yang kelima adalah, apapun yang dibelanjakan manusia dalam bentuk infak dan sedekah serta pemberian mulia lainnya, yakinlah pasti akan dibalasi Allah SWT. dengan balasan yang berlipat ganda. Jadi tidak ada yang sia-sia, selama manusia ikhlas melakukannya.

Thursday, August 19, 2010

Puasa Ramadhan: Bulan "Back to Family"

Al Gore, calon presiden dari Partai Demokrat dalam pemilu Amerika Serikat tahun 2000 lalu dalam salah satu tema kampanyenya mengajak warga AS untuk "back to family", kembali ke keluarga.
Ada tiga hal yang melatar belakangi kenapa Gore mengusung isu keluarga. Pertama, tingginya perceraian di Amerika. Kedua, membengkaknya jumlah anak-anak broken home. Ketiga, melonjaknya angka (kasus) perselingkuhan di masyarakat.

Tentu saja yang dikhawatirkan Gore tidak saja terjadi di Amerika, tetapi juga terjadi di Indonesia. Keluarga Indonesia sesungguhnya sedang berada pada titik nadir yang mengkhawatirkan. Beberapa alasan dapat dikemukakan. Pertama, ada kecenderungan terjadinya peningkatan angka perceraian. Menariknya, penyebab perceraian itu bukan semata-mata masalah ekonomi, perselingkuhan atau KDRT, tetapi lebih disebabkan oleh hal-hal yang bersifat psikologis, seperti kebosanan dan kejenuhan. Kedua, mencuatnya kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga, baik yang dialami oleh istri ataupun anak-anak. Ketiga, jumlah anak-anak yang mengalami broken home terus meningkat. Keempat, perilaku menyimpang yang dipertontonkan sebagian anak-anak. Ini membuktikan keluarga tidak lagi berperan sebagai "sekolah pertama" yang mendidik keluruhan moral anak-anak. (Azhari, AT.:2008)

Bulan Ramadhan sesungguhnya dapat dijadikan momentum, untuk menjadikan keluarga sebagai pelabuhan terakhir yang menyenangkan dan membahagiakan. Meskipun sering tidak disadari, Ramadhan telah berjasa mengembalikan perhatian setiap orang terhadap keluarganya. Sungguh Ramadhan menyadarkan kita bahwa sebenarnya kita memiliki sesuatu yang sangat berharga dalam hidup. Itulah keluarga.

Jujur harus diakui, saat-saat yang paling indah dalam kehidupan keluarga adalah ketika kita melakukan aktivitas secara bersama-sama. Makan bersama, shalat berjama'ah, santai sambil nonton TV bersama, rekreasi bersama, dan sebagainya, adalah momen-momen yang paling indah dan mengesankan bagi setiap keluarga. Dalam momen-momen tersebut rasa kasih sayang, kebersamaan, perhatian, kepedulian, penghormatan dan penghargaan terbangun dengan sangat mengesankan.

Selama bulan Ramadhan kita menemukan kembali momen-momen penting ini. Waktu berbuka adalah saat-saat yang paling indah bersama keluarga. Demikian juga pada waktu shalat berjama'ah. Andaipun kita tidak sepenuhnya mendapatkan momen berbuka bersama, paling tidak pada waktu makan sahur dan shalat Shubuh berjama'ah, masih dapat kita lakukan. Tentu saja, kesempatan berkumpul adalah kesempatan yang paling baik untuk mengetahui kondisi masing-masing anggota keluarga. Makan bersama, dapat dijadikan media untuk berbagi informasi berkeaan dengan aktivitas di luat ataupun rencana-rencana kehidupan pada masa datang. Terjadilah sharing information, diskusi, perdebatan, dan saling memberi masukan. Pada akhirnya, ikatan kekeluargaan yang selama ini terasa longgar kembali terjalin dengan baik.

“Asmara Shubuh di Bulan Ramadhan”: Misteri Shubuh Berjama'ah

Di kalangan remaja atau muda mudi Islam pada bulan Ramadhan sering terdengar istilah “asmara Shubuh”. Maksudnya adalah, "jalan santai setelah shalat Shubuh pada bulan Ramadhan".
Keapa bulan Ramadhan? ya, karena hanya pada bulan Ramadhan umat Islam melaksanakan shalat Shubuh secara massal di masjid. Sedangkan pada bulan-bulan biasa, jumlah umat Islam yang melaksanakan shalat Shubuh di masjid sangat sedikit. Lihatlah masjid-masjid kita pada waktu Shubuh selain bulan Ramadhan? Sepi dari jamaah.

Bagaimana upaya mempertahankan Shubuh Ramadhan ini pada bulan-bulan lainnya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menyingkap makna atau misteri shalat Shubuh (Azhari AT.:2008). Mudah-mudahan dengan mengetahui manfaat shalat Shubuh berjama'ah, kita menjadi termotivasi untuk meramaikan masjid---setidaknya pada waktu Shubuh.

Sedikitnya ada tiga nilai yang terkandung di dalam shalat Shubuh (Azhari AT,:2008). Pertama, pahala tanpa batas. Bagi orang yang melaksanakan shalat Shubuh berjama'ah, ia akan memperoleh pahala yang banyak, dihapuskan kejelekannya, dan ditinggikan beberapa derajat kedudukannya. Disamping itu ia akan memperoleh pahala seolah shalat satu malam penuh. Shalat Shubuh merupakan sumber cahaya di hari kiamat.

Kedua, di akhirat nanti ada orang yang tidak saja memperoleh surga, namun lebih dari itu ia berkesempatan melihat Allah di surga. Inilah ganjaran yang cukup tinggi dan agung bagi mereka yang memelihara dua shalat, Shubuh dan Ashar.

Ketiga, di dalam rangkaian shalat Shubuh, terdapat shalat sunat yang cukup mulia yaitu shalat sunat fajar dua rakaat sebelum Shubuh. Dan banyak lagi keistimewaan lainnya.

Dalam sebuah hadits Rasul pernah mengatakan bahwa andai umatku mengetahui kebaikan-kebaikan yang terdapat di dalam shalat Shubuh dan Isya, niscaya mereka akan bergegas mendatangi masjid walaupun harus merangkak.

Meskipun melaksanakan shalat Shubuh berjama'ah itu berat, dan butuh perjuangan keras, kita tetap harus mencobanya. Semoga Shubuh Ramadhan yang sangat kolosal tersebut dapat terus kita pertahankan pada bulan-bulan selanjutnya. Amin.

Tuesday, August 17, 2010

"Menggunakan Pasta Gigi Ketika Berpuasa"

Menggunakan pasta gigi bagi orang yang sedang berpuasa tidaklah mengapa dengan catatan pasta gigi yang digunakan itu tidak sampai masuk ke dalam perut. Namun demikian yang paling utama adalah kita tidak menggunakannya pada waktu siang hari ketika sedang menjalankan ibadah puasa, karena boleh jadi pasta gigi tersebut akan dapat mengalir (merembes) dengan kuat hingga sampai ke perut, sedang kita tidak menyadarinya.

Oleh karena itu Rasulullah SAW pernah berkata kepada Laqith bin Shabrah ra.:
"Dalamkanlah ketika kamu istinsyaq (menyedot/memasukkan air ke hidung ketika berwudhu) kecuali, ketika kamu berpuasa".

Adapun pendapat yang paling utama adalah tidak menggunakan pasta gigi pada siang harinya ketika berpuasa karena masalahnya akan menjadi semakin luas. Dan lebih baik menggunakan pasta gigi pada waktu berbuka atau sebelum sahur karena dapat terselamatkan dari sesuatu yang dikhawatirkan akan membatalkan puasa.

Monday, August 16, 2010

Apakah Anak-anak diperintahkan Puasa?

Anak-anak yang belum baligh (umur dibawah 15 tahun) juga diperintahkan untuk berpuasa apabila memang mereka kuat untuk melakukan puasa. Demikian ini sebagaimana telah dilakukan oleh para sahabat radliyallahu 'anhum terhadap anak-anak mereka yang belum baligh untuk melaksanakan ibadah puasa.

Para ahli ilmu telah menetapkan bahwa wali (dari seorang anak) harus memerintahkan kepada anaknya yang masih dibawah tanggungannya untuk berpuasa dengan tujuan untuk melunakkan hati mereka dan membiasakan mereka untuk berpuasa, serta memberikan watak pokok-pokok Islam dalam jiwa mereka, sehingga menjadi kebiasaan (tabiat) bagi mereka. Namun apabila puasa itu masih memberatkan bagi mereka atau membahayakan jiwanya, maka tidak diwajibkan untuk melakukan puasa.

Sangat disayangkan apabila masih ada orang tua yang kerapkali mencegah anak-anak mereka untuk melakukan puasa dengan alasan berbeda dengan yang dilakukan para sahabat pada zaman dahulu.
Mereka merasa kasihan dan tidak tega melihat anak mereka kelaparan dan menahan haus. Pandangan semacam ini sangatlah keliru. Bahkan hakikat dari rasa kasih sayang orang tua kepada anak adalah dengan memerintahkan mereka melaksanakan syari'at-syari'at Islam, dan membiasakan keseharian mereka dengan syari'at Islam, serta membentuk watak dan tabiat mereka dengan apa yang disyari'atkan Islam.

Demikian ini adalah termasuk cara-cara mendidik anak yang baik dan bentuk penjagaan amanah yang sempurna, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.:
"Sesungguhnya seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan dipertanyakan kepadanya tentang (orang-orang) yang dipimpinnya."

Oleh karena itu bagi para orang tua hendaknya mereka bertaqwa dan memerintahkan keluarga dan anak-anaknya untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah 'Azza Wa Jalla, serta memerintahkan mereka untuk menjalankan syari'at Islam.

Tuesday, August 10, 2010

"Qiyamul Ramadhan (Tarawih)" Hikmah Tiap Malam

Shalat Tarawih berarti permohonan maaf atas dosa-dosa kecil yang telah lalu. Shalat tarawih hukumnya sunat muakkah. Tarawih adalah shalat malam di bulan Ramadhan yang bisa dikerjakan sendiri, namun lebih utama kalau dikerjakan secara berjamaah.

Nabi bersabda: "Barangsiapa yang mendirikan sholat Tarawih, karena iman dan karena Allah maka diampuni dosanya yang telah lalu".

Berikut adalah hikmah tiap-tiap malam Shalat Tarawih:

Malam Pertama:
Bersih dari dosa seperti bayi yang baru dilahirkan.

Malam ke 2:
Orang tua (bapak dan ibu) yang sudah meninggal akan diampuni dosanya.

Malam ke 3 :
Lebih menguatkan lagi pahala malam ke 1

Malam ke 4 :
Mendapatkan derajat, sama dengan orang yang membaca 4 kitab suci, yaitu: Taurat, Injil, Zabur, dan Qur’an

Malam ke 5 :
Mendapat keutamaan, sama dengan orang yang shalat di 3 Masjid Agung, yaitu: Masjidil Haram, Masjid Madinah dan Masjidil Aqso.

Malam ke 6 :
Mendapat kemuliaan yang sama dengan malaikat yang thawaf di Baitul Ma’mur, sehingga semua batu dan pohon-pohonan memohonkan ampun untuk orang itu.

Malam ke 7 :
Mendapatkan keutamaan jihad yang sama pahalanya dengan pengikut Nabi Musa as. sewaktu mengalahkan Fir’aun dan Qor’un.

Malam ke 8 :
Mendapat ketenangan hati seperti yang diberikan kepada Nabi Ibrahim as.

Malam ke 9 :
Dianggap sejajar dengan ibadahnya nabi-nabi.

Malam ke 10 :
Mendapat rezeki kebaikan di dunia dan di akhiraat.

Malam ke 11 :
Menguatkan lagi pahala malam ke 1, yaitu bersih dari dosa, seperti baru dilahirkan.

Malam ke 12 :
Akan menghadap Allah dengan penuh kebahagiaan sehingga mukanya cemerlang seperti bulan purnama.

Malam ke 13 :
Mendapat syafaa’tul ‘Udzmaa, sehingga pada hari Kiamat bebas dari kesusahan.

Malam ke 14 :
Mendapat syafa’at dari para malaikat sehingga mendapat keuntungan hisab.

Malam ke 15 :
Mendapat pangkat yang tinggi di alam malaikat sehingga malaikat-malaikat ‘Arasy dan Kursi mengucapkan shalawat kepada orang itu.

Malam ke 16 :
Mendapat pernyataan bebas dari neraka dengan izin masuk surga.

Malam ke 17 :
Mendapat ganjaran (pahala) yang hampir sama dengan ganjaran para Nabi.

Malam ke 18 :
Allah me Ridhoi atas dirinya dan ibu bapaknya.

Malam ke 19 :
Naik derajat sehingga mendapat izin tinggal (diam) di surga firdaus.

Malam ke 20 :
Naik lagi derajat sehingga diberi izin bertetangga dengan para syuhada dan para solihin.

Malam ke 21 :
Mendapat tempat istimewa di surga yang terbuat dari cahaya.

Malam ke 22 :
Bebas dari kebingungan dan kesusahan pada hari kiamat.

Malam ke 23 :
Diberi izin pergi ke kota, bertamasya di surga.

Malam ke 24 :
Dikabulkan 24 do’a.

Malam ke 25 :
Dibebaskan dari siksa kubur.

Malam ke 26 :
Mendapat kelebihan derajatnya dari pada orang lain lebih dari 40 tahun.

Malam ke 27 :
Dapat menyeberang jembatan Sidhratul Muntaha lebih cepat dari pada kilat.

Malam ke 28 :
Mendapat 1.000 derajat di surga.

Malam ke 29 :
Mendapat keutamaan, berlipat ganda dari yang menunaikan ibadah haji.

Malam ke 30 :
Diberi izin untuk makan seluruh rezeki yang ada di surge.

Olehnya itu marilah kita usahakan agar jangan sampai ketinggalan untuk sholat Tarawih. Dan kita memohon bantuan kepada Allah SWT agar selalu diberikan kesehatan dan kesempatan sehingga kita bisa melaksanakan Shalat Tarawih sebulan penuh. Amin.

"Menyongsong Ramadhan Pembawa Rahmah" (Tiga Golongan Sikap dalam Menyambutnya)

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu, agar kamu bertaqwa (QS. Al-Baqarah:183)

"Sungguh telah datang kepadamu, bulan yang penuh berkah. Dan Allah telah mewajibkan atasmu berpuasa" (HR. Ahmad dari Abu Hurairah).

Tanpa terasa, Ramadhan kembali sudah berada diambang pintu dan pelupuk mata kita. Bulan yang penuh keagungan, berkah, dan bulan yang selalu dinanti-nantikan oleh orang yang beriman.
Marhaban Ya Ramadhan, selamat datang bulan suci Ramadhan. Itulah kata-kata yang pantas dan sering kali kita jumpai dimana-mana, ketika bulan suci Ramadhan datang menemui umat Islam. Bulan yang datang dengan penuh syiar, diliputi berbagai suasana dan bentuknya yang beragam. Itu adalah salah satu bentuk kecintaan umat Islam dan kegembiraan akan datangnya bulan yang mulia itu.

Mulia karena bulan ini banyak membawa rahmah. Rahmah yang tidak hanya menyentuh mereka yang memeluk Islam saja, tetapi itu berlaku kepada siapa saja. Bagi kaum muslim, Ramadhan adalah bulan mulia dan istimewa sebab dibulan inilah para pemeluk Islam yang ingin taqwa akan melakukan intropeksi diri terhadap segala yang telah dilakukan dalam satu tahun.

Tetapi secara tidak langsung, sebenarnya suasana hati yang muncul dari kalangan masyarakat atau umat, dapat dipetakan dalam tiga golongan besar, yaitu:
1. Sebagian dari mereka yang mempunyai anggapan bahwa Ramadhan tidak lebih dari pengekangan yang tiada faedah, hanya ikut-ikutan dalam beragama dan tidak ada kebaikan sama sekali didalamnya. Akibatnya, mereka tidak berpuasa dengan terang-terangan, meremehkan orang yang berpuasa.

2. Sebagaimana pendapat di atas, ada juga orang yang beranggapan bahwa Ramadhan adalah bulan yang khusus untuk menyediakan makanan yang enak, yang lezat. Ramadhan adalah bulan dimana orang dapat merasakan keenakan, bersenang-senang hanya pada malam hari saja. Bahkan apabila merasa tidak kuat karena haus dan lapar, maka dengan seenaknya berbuka walau dengan cara sembunyi-sembunyi. Selain itu bulan Ramadhan adalah saat dimana tidur siang hari adalah saat untuk bersantai, tidur, tidak usah bekerja dan lain alasan.

3. Kelompok minoritas yang menyikapi Ramadhan sebagai bulan yang eksklusif. Mereka melihat Ramadhan adalah saat untuk berlatih untuk memperbaharui diri, nilai-nilai yang terkandung dalam jiwanya. Misalnya adalah: budi pekertinya, sikap beradaptasi dengan masyarakat, sikap sabar, dan sifat-sifat yang agung lainnya.

Saturday, July 10, 2010

"Isra' Mi'raj Bukan untuk Menerima Perintah Shalat"

Apakah benar Rasulullah saw menerima perintah shalat pertama kalinya pada waktu peristiwa Isra' Mi'raj? Kenapa muncul pertanyaan seperti ini? Pertanyaan ini muncul karena ada beberapa informasi di dalam hadits maupun Qur'an yang mengatakan bahwa perintah shalat itu sebenarnya diberikan pertama kalinya bukan untuk beliau. Bahkan pada saat perjalanan Isra' Mi'raj itu pun Rasulullah saw sudah menjalankan shalat di beberapa tempat pemberhentian. Termasuk juga shalat di masjidil Aqsha sebelum berangkat Mi'raj.
Maka, kita memang pantas untuk mempertanyakan, manakah informasi yang harus kita ambil sebagai kesimpulan: Rasulullah saw menerima perintah shalat pada saat Mi'raj di langit ke tujuh, ataukah sebelum itu beliau sudah menjalankan shalat.

Apalagi dalam berbagai ayat Qur'an Allah berfirman bahwa perintah shalat itu memang sudah diberikan sejak zaman Nabi Ibrahim as. sehingga seluruh keturunan, anak cucu Nabi Ibrahim, juga telah menjalankan shalat. Tentu saja, termasuk Nabi Muhammad saw.

Dalam beberapa ayat Qur'an disebutkan bahwa perintah shalat itu sebenarnya sudah diwahyukan sejak lama kepada Nabi dan Rasul sebagai ibadah utama untuk berkomunikasi dengan Allah. Jadi bukan hanya pada saat Rasulullah saw saja shalat itu diperintahkan.

Oleh karena itu, maka agaknya kita perlu menata kembali kefahaman tentang turunnya perintah shalat pada saat beliau Mi'raj. Khususnya, persepsi yang berkembang dibeberapa kalangan Islam selama ini, bahwa shalat untuk pertama kalinya diperintahkan kepada umat Islam pada saat Rasulullah saw Mi'raj.

Dengan demikian, perintah shalat itu sebenarnya disampaikan Allah kepada Rasulullah saw lewat firman dalam berbagai ayat-Nya. Termasuk yang berkait dengan waktu-waktu pelaksanaannya, mulai Shubuh sampai Isya'.

Jadi shalat 5 waktu itu pun diperintahkan Allah lewat wahyu sebagaimana wahyu yang lain. Bukan lewat Isra' dan Mi'raj. Kenapa demikian? Karena ternyata perintah shalat 5 waktu itu bisa kita temukan dalam al Qur'an, diantaranya adalah QS. An Nisaa':103 dan QS. Israa:78.

Jadi, apa makna Isra' Mi'raj?
Perjalanan Isra' Mi'raj, lantas dimaknai sebagai perjalanan yang memberikan penegasan terhadap Kebesaran Allah di alam semesta, kepada Rasulullah saw. Karena itu, selama dalam perjalanan tersebut diperlihatkan seluruh petilasan agama-agama tauhid yang diperjuangkan oleh para Rasul sebelum beliau. Sehingga dikabarkan juga, beliau berhenti di beberapa tempat petilasan para Rasul terdahulu. Dan disana beliau melakukan shalat 2 rakaat. Hal ini untuk memberikan motivasi yang besar kepada Rasulullah saw bahwa para Nabi terdahulu juga mengalami perjuangan yang berat. Itulah 'pesan' yang ada pada perjalanan Isra' dari Mekkah ke Palestina.

Sedangkan perjalanan Mi'raj ke langit ke tujuh adalah perjalanan spiritual melintasi berbagai dimensi yang menghasilkan pelajaran ke khusyuan dalam shalat.

Sumber: Agus Mustafa (Terpesona di Sidratul Muntaha, hal 148-175)

Saturday, May 22, 2010

Metafisika Ruh: Ruh itu Urusan ALLAH

Berbeda dengan jasmaniah kasar maupun halus (piranti keras dan lunak) Ruh bukan piranti dia Energi bagi manusia, Ruh adalah Energi Tuhan, yang mewakili Tuhan atas diri manusia, didalamnya terkandung sifat-sifat Tuhan demikian dikatakan bahwa manusia adalah makhluk Ruhaniah

Dalam Kitab Suci Al Qur’an banyak ayat yang menjelaskan duduk perkara soal ruh ini. Di antaranya menyatakan demikian:
1. Surat 15 (AL-HIJR) ayat 29
“Maka apabila Aku sempurnakan dia dan Aku tiupkan padanya Ruh dari Ku, hendaklah kamu tunduk sujud akan dia”
2. Surat 32 (AS-SAJ’DAH) ayat 9
“Lalu Ia sempurnakan kejadiannya, Ia tiupkan pada sebagian dari RuhNya dan Ia jadikan bagi kamu pendengaran dan penglihatan dan hati tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.”

Dari dua bunyi ayat diatas menjelaskan akan diri manusia, jati diri manusia yang sebenarnya, manusia pada saat kondisi bayi (baru lahir kedunia) tidak memahami akan dirinya, ketika beranjak remaja menganggap diri sebatas fisik (jasmaniah) banyak sekali dari manusia sampai usia tua menganggap dirinya fisik (jasmaniah). Kondisi ini terjadi ketika manusia terjebak oleh hawa nafsunya, karena cintanya pada dunia yang demikian besar menyebabkan tertutup kesadarannya akan jati dirinya yang sesungguhnya, dalam kehidupannya didunia akal dan fikirannya hanya tertuju pada gemerlapnya dunia dengan sendirinya akhirat terabaikan. Sejauh mana keyakinan kita sebagai manusia akan ayat tersebut diatas.

Sebagai ayat pembanding untuk analisa ayat tentang Ruh berikut ini adalah :
Surat 15 (AL-HIJR) ayat 27
“Dan jin itu, Kami jadikan dia lebih dahulu, dari api yang beracun ”
Dalam 2 (dua) ayat diatas dikatakan
1. “Aku tiupkan padanya Ruh dari Ku”
2. “Ia tiupkan padanya sebagian dari RuhNya”

Pada surat 15 (Al-Hijr) ayat 27 dikatakan bahwa jin itu dijadikan, sementara Ruh ditiupkan jelas disini bahwa jin itu dicipta (dibuat) oleh Tuhan sementara Ruh itu bukan ciptaan tapi bagian dari Ruh Tuhan, itu sebabnya Ruh itu kekal sebagaimana Tuhan. Begitupun jasad manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan alam semesta semua ciptaan Tuhan, hanya Ruh manusia saja yang bukan ciptaan melainkan bagian dari Ruh Tuhan, itu sebabnya pada diri manusia terkandung sifat keTuhanan. Hawa nafsu yang terkandung didalam Ruh manusia terdiri atas 4 (empat) level (tingkat) yaitu :
1. MULHALAMAH
2. RODHIYAH
3. MARDHIYAH
4. KAMILAH

Demikian sedikit penjelasan metafisis soal ruh yang bagi sebagian kalangan dianggap rahasia ini. Semoga ada manfaatnya.

Sumber:http://wongalus.wordpress.com

Wednesday, May 19, 2010

Nasehat dan Kata-Kata Himah Huzaifah Bin Yaman

1. Hati itu ada 4 macam:
1. Hati yang tertutup, itulah dia hati orang kafir.
2. Hati yang dua muka, itulah dia hati orang kafir.
3. Hati suci bersih yang ada pelita menyala, itulah dia hati orang beriman.
4. Hati yang berisi keimanan dan kemunafikan. Tamsil keimanan itu adalah laksana
sebatang kayu yang dihidupi air yang bersih,sedang kemunafikan itu tak ubahnya
bagai bisul yang diairi darah dan nanah. Maka, diantara keduanya yang lebih
kuat, itulah yang menang.

2. "Berhati-hatilah kamu dari tempat fitnah". Lalu ada yang bertanya: "Manakah tempat
fitnah itu?" Huzaifah menjawab: "Pintu rumah amir-amir (penguasa), dimana seseorang
masuk ke tempat amir itu, lalu membenarkan perkara bohong dan mengatakan tentang
sesuatu yang tidak sebenarnya".

3. Akan datang suatu ketika hati, penuh dengan iman. Sehingga tidak ada lagi tempat selubang jarum pun bagi kemunafikan. Dan akan datang suatu saat ketika hati penuh dengan kemunafikan, sehingga tidak tersisa pada hati itu tempat selubang jarum pun bagi keimanan.

Saturday, May 15, 2010

WUJUD ALLAH MENURUT SEMBILAN WALI

Makrifatullah sebagai pengenalan tertinggi kawulo/hamba pada gusti telah dialami oleh para wali penyebar agama Islam di Nusantara. Mereka adalah suri tauladan pencapaian pendakian spiritual bagi kita, pencari jalan Ilahi. Apa dan bagaimana makrifat dari para wali dan bagaimana wujud Tuhan yang sebenarnya?

Makrifat adalah sebuah situasi mental dan kondisi kejiwaan yang dialami oleh siapapun yang menginginkan adanya perjumpaan dengan Tuhan Semesta Alam. Salah satu momen makrifat yang paling fenomenal dalam sejarah para nabi adalah apa yang dialami Nabi Musa As saat ekstase/ fana/jatuh tersungkur di bukit Sinai saat “menatap” wajah-Nya setelah gunung yang ada di depannya hancur karena tidak sanggup ditempati pancaran cahaya-Nya.

Makrifat bisa diraih dengan perjuangan dan laku yang berat.Dalam khasanah tasawuf, kita akan diajari bagaimana laku yang berat tersebut harus dijalankan untuk menyingkirkan dan menerobos hijab menuju langit. Hijab adalah tirai selubung penutup batin kita sehingga kita tidak mampu menggapai wujud-Nya.

Hijab di dalam perbendaharaan kaum sufi bisa dikategorikan menjadi sepuluh besar. Hijab ini berasal dari empat unsur, yaitu unsur jiwa, dunia, hawa nafsu, dan setan:

Hijab ta’thil, yaitu meniadakan asma’ dan sifat Allah.

Hijab berupa kemusyrikan, yaitu manembah kepada selain Allah.

Hijab bid’ah qauliyah yang tidak ada pijakannya dalam agama).

Hijab bid’ah ‘amaliah atau perbuatan yang menyimpang dari kebenaran iman dan ikhsan

Hijab batiniyah: takabur, ujub, riya, hasad, bangga diri, sombong dan iri dengki dan lain-lain.

Hijab lahiriyah: Perbuatan Ibadah yang tidak diniatkan untuk berjumpa dengan-Nya.

Hijab dosa kecil. Melakukan perbuatan dosa-dosa kecil namun banyak.

Hijab mubah. Melakukan perbuatan mubah namun tidak dianggap sebagai sebuah dosa.

Hijab lalai dari misi penciptaan dan iradat Allah.

Hijab penempuh jalan spiritual yang bersusah-payah, tetapi namun tidak sampai tujuan.

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-bena tehijab dari (melihat) Rabb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka”
(Al-Muthaffifin: 15-16)

Setelah semua hijab terbuka dan seseorang pejalan spiritual sudah sampai ke langit ketujuh di dalam diri sejatinya, maka seseorang akan kebingungan dan berada di alam “suwung”/ ora ono opo-opo. Semua pendamping kini telah meninggalkannya termasuk diri, malaikat dan para rasul. Dia kemudian dibimbing oleh Tuhan sendiri untuk berjumpa dengan Dzat-Nya.

Apa yang terjadi sesudah kita bermakrifatullah? Tidak ada kata yang mampu menjelaskan situasi dan kondisi fana tersebut. Namun, kita bisa mendapatkan penjelasan dari para wali saat mengalami fana tersebut. Bagaimana wujud Allah SWT?

Sunan Kalijaga: “Allah itu adalah seumpama memainkan wayang.”

Syekh Majagung: “Allah itu bukan disana atau disitu, tetapi ini.”

Syekh Maghribi: “Allah itu meliputi segala sesuatu.”

Syekh Bentong: “Allah itu itu bukan disana sini, ya inilah.”

Sunan Bonang: , “Allah itu tidak berwarna, tidak berupa, tidak berarah, tidak bertempat, tidak berbahasa, tidak bersuara, wajib adanya, mustahil tidak adanya.”

Sunan Kudus: “Jangan suka terlanjur bahasa menurut pendapat hamba adapun Allah itu tidak bersekutu dengan sesama.”

Sunan Giri berpendapat, “Allah itu adalah jauhnya tanpa batas, dekatnya tanpa rabaan.”

Syekh Siti Jenar: “Allah itu adalah keadaanku. Sesungguhnya aku inilah haq Allah pun tiada wujud dua, nanti Allah sekarang Allah, tetap dzahir batin Allah”

Sunan Gunung Jati: “Allah itu adalah yang berwujud haq”

***

@. wongalus, 2009

Thursday, May 6, 2010

Keajaiban Angka Dalam Al-Qur'an

Subhanallah , kata yang pertama kali saya ucapkan setelah membaca tuntas postingan ini . Tentu anda setuju dengan pernyataan " Allah SWT Maha Adil " , tidak ada satupun sesuatu yang diciptakan oleh Allah SWT tanpa manfaat. Bahkan , angka kebaikan dan keburukan , siksaan dan berkah dalam Al - Qur'an pun seimbang . Untuk mengetahui banyak lagi keutamaan nya silahkan baca hingga akhir.

Kata-kata dalam Al-Qur’an, dengan sejumlah pengulangannya merupakan Mukjizat, jumlah kata-kata dalam Al-Qur’an yang menegaskan kata-kata yang lain ternyata jumlahnya sama dengan jumlah kata-kata Al-Qur’an yang menjadi lawan kata atau kebalikan dari kata-kata tersebut, atau diantara keduanya ada nisbah kontradiktif.

Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada ayat-ayat mulianya, makna-maknanya, prinsip-prinsip dan dasar-dasar keadilannya serta pengetahuan-pengetahuan gaibnya saja, melainkan juga termasuk jumlah-jumlah yang ada dalam Al-Qur’an itu sendiri, begitu juga pengulangan kata dan hurufnya, orang-orang yang melakukan ‘ulum’ Al-Qur’an sejak dulu sudah menyadarai adanya.. fenomena tersebut mempunyai maksud dan tujuan tertentu.

Para peneliti terdahulu sudah mencatat, bahwa surat-surat yang dibuka dengan huruf-huruf ‘muqaththa’ah’ berjumlah 29 surat, sementara jumlah huruf ‘hijaiyah’ Arab ditambah dengan huruf “Hamzah” juga berjumlah 29 huruf hal ini dengan sudut pandang bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab.

DR. Abdul Razaq Naufal dalam bukunya berjudul ‘ Al’Ijaz Al’Adadiy Fi Al-Qur’an Al Karim” beliau menulis beberapa tema-tema tersebut terjadi keharmonisan diantara jumlah kata-kata Al-Qur’an dan berikut ini adalah sejumlah perhitungan yang benar-benar merupakan Mukjizat, dari jumlah kata dalam Al-Qur’an sebanyak 51.900, Jumlah Juz 30, Jumlah Surat 112, keanehan yang ada diantaranya sbb :

* Kata ‘Iblis” ( La’nat ALLAH ‘alaihi ) dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 11 kali, sementara “Isti’adzah” juga disebutkan 11 kali, Kata “ma’siyah” dan derivatnya disebutkan sebanyak 75 kali, sementara kata “Syukr” dan derivatnya juga disebutkan sebanyak 75 kali.
* Kata “al-dunya” disebutkan sebanyak 115 kali, begitu juga kata “al-akhirah” sebanyak 115 kali.
* Kata “Al-israf” disebutkan 23 kali, kata kebalikannya “al-sur’ah” sebanyak 23 kali.
* Kata “Malaikat” disebutkan 88 kali, kata kebalikannya ‘Al-syayathin” juga 88 kali.
* Kata “Al-sulthan disebutkan 37 kali, kata kebalikannya “Al-nifaq” juga 37 kali.
* Kata “Al-harb”(panas) sebanyak 4 kali, kebalikannya “ Al-harb” juga 4 kali.
* Kata “ Al-harb (perang) sebanyak 6 kali, kebalikannya “Al-husra” (tawanan) 6 kali.
* Kata “Al-hayat” (hidup” sebanyak 145 kali, kebalikannya “Al-maut” (mati) 145 kali.
* Kata “Qalu” (mereka mengatakan) sebanyak 332 kali, kebalikannya “Qul” ( katakanlah) sebanyak 332 kali.
* Kata “Al-sayyiat” yang menjadi kebalikan kata “Al-shahihat” masing-masing 180 kali.
* Kata “Al-rahbah” yang menjadi kebalikan kata “Al-ragbah” masing-masing 8 kali.
* Kata “Al-naf’u” yang menjadi kebalikan kata “Al-fasad” masing-masing 50 kali.
* Kata “Al-nas” yang menjadi kebalikan kata “Al-rusul” masing-masing 368 kali.
* Kata “Al-asbath” yang menjadi kebalikan kata “Al-awariyun” masing-masing 5 kali
* Kata “Al-jahr” yang menjadi kebalikan kata “Al-alaniyyah” masing-masing 16 kali
* Kata “Al-jaza” 117 kali ( sama dg kebalikannya),
* Kata “Al-magfiroh” 234 kali ( sama dengan kebalikannya),
* Kata “Ad-dhalala” ( kesesatan) 191 kali ( sama dengan kebalikannya),
* Kata “Al-ayat” 2 kali “Ad-dhalala” yaitu 282 kali. Dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu persatu disini.
* Kata “Yaum” (hari) dalam bentuk tunggal disebutkan sebanyak 365 kali, sebanyak jumlah hari pada tahun Syamsyiyyah.
* Kata “Syahr” ( bulan) sebanyak 12 kali, sama dg jumlah Bulan dalam satu Tahun.
* Kata “Yaum” (hari) dalam bentuk plural (jamak) sebanyak 30 kali, sama dengan jumlah hari dalam satu Bulan.
* Kata “Sab’u” (minggu) disebutkan 7 kali, sama dengan jumlah hari dalam satu minggu.
* Jumlah “ saah” (jam) yang didahului dengan ‘harf’ sebanyak 24 kali, sama dengan jumlah jam dalam satu hari.
* Kata “Sujud” disebutkan 34 kali, sama dengan jumlah raka’at dalam solat 5 waktu
* Kata “Shalawat” disebutkan 5 kali, sama dengan jumlah solat wajib sehari semalam.
* Kata “Aqimu” yang diikuti kata “Shalat” sebanyak 17 kali, sama dengan jumlah Raka’at Sholat fardhu/ wajib.

Kontributor
http://misteridunia.wordpress.com/2008/10/12/rahasia-angka2-dalam-al-quran/
http://7b-skodsa.blogspot.com/2010/04/rahisia-angka-angka-dalam-al-quran.html

Thursday, April 15, 2010

Roh dalam Maut.............

“Kami sedang mengantarkan jenazah di Baqi. Kemudian datanglah Nabi dan duduk bersama kami di dekat jenazah. Kami tundukkan kepala kami seakan-akan burung hinggap di atasnya. Ia berkata: Aku berlindung dari siksa kubur, 3X. Sesungguhnya manusia mukmin ketika hendak memasuki akhirat dan meninggalkan dunia, turunlah malaikat kepadanya dengan wajah yang bersinar seperti cahaya matahari.

Mereka duduk di dekat rnayit sepanjang mata memandang. Lalu datanglah malakal maut dan duduk di dekat kepalanya dan berkata: Hai roh yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaannya. Maka keluarlah roh itu mengalir seperti rnengalirnya tetesan air dari mulut cerek. Malaikat maut mengambilnya. Apabila ia sudah mengambilnya, ia tidak membiarkannya berada di tangannya sekejap mata pun sampai ia menyimpannya di dalam kafan. Dari roh itu keluarlah bau harum semerbak memenuhi permukaan bumi. Para malaikat naik membawa roh itu. Setiap kali mereka rnelewati kelompok malaikat yang lain, mereka ditanya, ‘Siapa roh yang baik ini?’ Mereka menyebut Fulan bin Fulan dengan nama-nama yang indah yang diperolehnya di dunia. Ketika sampai di langit dunia, dibukakanlah pintu baginya. Pada setiap langit, malaikat mengantarkannya sampai ke langit berikutnya dan seterusnya sampai ke Allah Ta’ala.
Allah berfirman: ‘Tuliskan kitab hamba-Ku di tempat yang tinggi. Kembalikan dia ke bumi karena aku menciptakannya dari bumi, mengembalikannya ke bumi, dan mengeluarkannya dari bumi sekali lagi. Lalu rohnya dikembalikan ke jasadnya. Dua malaikat datang dan duduk bersamanya seraya berkata: Siapa Tuhanmu? Ia berkata: Tuhanku Allah. Apa agamamu? Agamaku Islam. Siapa laki-laki yang diutus kepadamu? Rasulullah. Darimana kamu mengetahui hal ini? Aku membaca Kitabullah, beriman kepadanya, dan membenarkannya. Seorang penyeru berseru dari langit: Benar hambaku. Hamparkan baginya tikar dari surga. Bukakan baginya pintu dari surga. Lalu angin dan semerbak surga datang kepadanya. Kuburan dilegakan seluas pandangan mata. Seseorang yang berwajah cantik datang kepadanya dengan baju yang indah dan bau yang harum. Ia berkata: Bergembiralah dengan apa-apa yang akan membahagiakan kamu. Inilah hari yang dijanjikan kepadamu. Mayit bertanya: siapakah kamu? Wajahmu wajah yang membawa kebaikan. Ia berkata: Saya. amal shalehmu. Ia berkata: Tuhanku, tegakkanlah hari kiamat supaya aku kembali kepada keluargaku dan kekayaanku.
Bila seorang kafir meninggalkan dunia dan memasuki akhirat, dari langit turunlah mialaikat berwajah buruk dan membawa kain yang buruk. Mereka duduk di dekat mayit sepanjang mata memandang. Lalu datanglah malakal maut dan duduk di dekat kepalanya dan berkata: Hai roh yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya.. Malaikat maut mencabut nyawanya seperti sisir besi mencabuti bulu yang basah. Mailakat maut mengambilnya. Apabila ia sudah mengarnbilnya, ia tidak membiarkannya berada di tangannya sekejap mata pun sampai ia menyimpannya di dalam kain buruk itu. Dari roh itu keluar bau yang lebih busuk dari bau bangkai dan memenuhi permukaan bumi. Para malaikat naik mernbawa roh itu. Setiap kali mereka melewati kelompok malaikat yang lain mereka ditanya. “Siapa roh yang buruk ini”? Mereka menjawab; Fulan bin Fulan dan menyebutnya dengan nama-nama yang buruk yang diperolehnya dari dunia. Ketika ia sampai ke langit dunia, ia minta dibukakan pintu langit, tetapi tidak dibukakan kepadanya. Kemudian. Rasulullah saw membaca ayat Al-Quran, “Sesingguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan kepada mereka pintu-pintu langit dan tidak pula mereka masuk surga, seperti tidak mungkinnya unta masuk ke lubang jarum. (QS. Al-A’raf 40)
Allah berfirman, ‘Tuliskan kitabnya di bumi yang paling rendah.’ Maka dilemparkanlah rohnya. Kemudian Nabi membaca ayat Al-Quran, ‘Dan barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS. AI-Haj 31) Lalu rohnya dikembalikan ke jasadnya. Dua malaikat datang dan duduk bersamanya, seraya berkata: Siapa Tuhanmu? Ia berkata: Ah, aku tidak tahu. Seorang penyeru berteriak dari langit: Bohong hambaku. Hamparkan kepadanya tikar dari api neraka. Bukakan baginya pintu neraka. Panas dan keringnya neraka mendatanginya. Kuburannya disempitkan sampai pecah tulang-tulangnya. Seseorang yang berwajah buruk, berpakaian buruk, berbau busuk datang kepadanya dan berkata: Terimalah berita yang menyusahkan kamu. Inilah hari yang telah dijanjikan kepadamu. Mayit bertanya, ‘Siapakah kamu? Wajahmu wajah yang membawa keburukan.’ Ia menjawab, ‘Aku amalmu yang buruk.’ Mayit itu berkata: Tuhanku jangan tegakkan hari kiamat. (Ibn Qayyim Al-Jawziyyah, Al-Roh hal 44-45).
Wallahu’alambishawab
Oleh : Prof.Dr.KH. Jalaluddin Rakhmat

Indahnya Roh....

Seperti tubuh, arwah mempunyai rupa yang bermacam-macam: buruk atau indah; juga mempunyai bau yang berbeda: busuk atau harum. Rupa roh jauh lebih beragam dari rupa tubuh. Berkenaan dengan wajah lahiriah, kita dapat saja menyebut wajahnya mirip binatang, tapi pasti ia bukan binatang. Roh dapat betul-betul berupa binatang -babi atau kera. Tuhan berkata, ‘Katakanlah: apakah akan Aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk kedudukannya di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi dan penyembah Thagut? Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (Al-Maidah 60)

Al-Ghazali menulis: ‘Al-Khuluq dan Al-Khalq kedua-duanya digunakan. Misalnya si Fulan mempunyai khuluq dan khalq yang indah -yakni indah lahir dan batin. Yang dimaksud dengan khalq adalah bentuk lahir, yang dimaksud dengan khuluq adalah bentuk batin. Karena manusia terdiri dari tubuh yang mencerap dengan mata lahir dan roh yang mencerap dengan mata batin. Keduanya mempunyai rupa dan bentuk baik jelek maupun indah. Roh yang mencerap dengan mata batin memiliki kemampuan yang lebih besar dari tubuh yang mencerap dengan mata lahir. Karena itulah Allah memuliakan roh dengan menisbahkan kepada diri-Nya. Ia bersabda, ‘Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, Aku menjadikan manusia dan’ tanah. Maka apabila telah kusempurna kan kejadiannya dan kutiupkan kepadanya rohku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.’(QS. Shad 71-72). Allah menunjukkan bahwa jasad berasal dari tanah dan roh dari Tuhan semesta alam. (Ihya Ulum Al-Din, 3:58).
Khuluq -dalam bahasa Arab- berarti akhlak. Roh kita menjadi indah dengan akhlak yang baik dan menjadi buruk dengan akhlak yang buruk. Dalam teori akhlak dari Al-Ghazali, orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya, akan memiliki roh yang berbentuk babi; orang yang pendengki dan pendendam akan memiliki roh yang berbentuk binatang buas; orang yang selalu mencari dalih buat membenarkan kemaksiatannya akan mempunyai roh yang berbentuk setan (monster) dan seterusnya.
Ketika turun ke bumi, karena berasal dari Mahasuci, roh kita dalam keadaan suci. Ketika kita kembali kepadanya, roh kita datang dalam bentuk bermacam-macam. Ketika pohon pisang lahir ke dunia, ia lahir sebagai pohon pisang. Ketika mati, ia kembali sebagai pohon pisang lagi. Ketika manusia lahir, ia lahir sebagai manusia. Ketika mati, ia kembali kepada Tuhan dalam berbagai bentuk, tidak hanya dalam bentuk manusia saja. Ia dapat kembali dalam bentuk binatang, setan, atau cahaya.
Walhasil, untuk memperindah bentuk roh kita, kita harus melatihkan akhlak yang baik. Meningkatkan kualitas spiritual, berarti mernperindah akhlak kita. Kita menyimpulkan prinsip ini dalam doa ketika bercermin. “Allahumma kama ahsanta khalqi fa hassin khuluqi.’ (Ya Allah, sebagaimana Engkau indahkan tubuhku, indahkan juga akhlakku).

Oleh : Prof.Dr.KH. Jalaluddin Rakhmat
bisnis paling gratis

Top Comments